Setelah membaca tema Giveaway dari Riawani Elyta tentang keajaiban cinta disini, maka pikiran saya langsung tertuju pada wanita tangguh yang satu ini. Kisahnya membuat saya merinding dan berpikir bahwa hanya kekuatan cinta dan pengabdian yang begitu besarlah yang dapat membuatnya menjadi setegar dan sekokoh itu dalam menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. Dan inilah kisah wanita itu, yang tegar berkat kekuatan dari keajaiban cinta.
Wanita itu adalah seorang istri dan ibu rumah tangga biasa yang berusia empat puluhan. Memiliki dua orang anak yang keduanya perempuan. Anak sulungnya telah menikah dan merantau ke pulau yang sangat jauh mengikuti suaminya. Sedangkan anak bungsunya sudah bekerja dan kadang harus pergi keluar kota karena tuntutan pekerjaan hingga kadang harus meninggalkan ayah dan ibunya berdua saja dirumah.
Sidoarjo, 5 Oktober 2011...
Pagi itu seperti pagi- pagi biasanya. Suaminya berangkat kerja, sedangkan anak bungsunya sedang berada di pulau Madura sejak hari sebelumnya untuk urusan pekerjaan.
Wanita itupun menjalani paginya seperti biasa, menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, memasak, bersih- bersih rumah dan sebagainya. Sama sekali tidak terbersit dalam pikirannya bahwa hari itu akan menjadi hari yang paling mengguncang hidupnya.
Sore harinya, wanita itu keluar rumah sebentar, ke rumah penjahit langganannya untuk sedikit memodifikasi baju miliknya. Sepulang dari rumah penjahit, wanita itu melihat kearah jam yang telah menunjukkan waktu dimana suaminya seharusnya sudah berada di rumah sepulang kerja sejak setengah jam yang lalu.
Tanpa rasa curiga, wanita itu lalu mengambil HP, karena saat keluar rumah tadi dia tidak membawa HP nya, dia berharap ada kabar dari suaminya yang memberitahukan kalau suaminya harus lembur hari ini dan pulang terlambat.
Dan benar saja. Ada lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab dari satu nomor tak dikenal yang masuk ke HP nya. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung menghubungi nomor itu.
Diseberang telpon ada suara lelaki yang tidak dikenalnya. Yang kemudian memperkenalkan diri sebagai teman kerja suaminya. Pria itu memberitahukan kalau saat ini suaminya sedang berada di ICU karena serangan jantung sepulang kerja tadi. Pikiran wanita itu langsung tak keruan dan meminta pria itu agar dia bisa berbicara langsung pada suaminya.
Tak lama kemudian suara suaminya terdengar dari seberang telpon. Suara suaminya terdengar lemah.
"Mama datang kesini ya. Tapi jangan buru- buru, ini jam pulang kantor, jalanan pasti ramai, jadi pelan- pelan saja dan hati- hati."
Ucapan lemah suaminya itu membuatnya hampir menangis saat itu juga, tapi ditahannya.
Dulu suaminya juga pernah harus masuk ICU karena serangan jantung, dan saat itu suaminya tidak perlu menginap dan diperbolehkan pulang dengan membawa berbagai macam obat. Maka wanita itupun membesarkan hatinya sendiri bahwa hari itupun suaminya akan langsung keluar dari ICU, seperti kejadian sebelumnya. Wanita itupun langsung berangkat menuju rumah sakit, tanpa menelpon kedua anaknya karena tidak mau membuat mereka cemas, lagipula dia yakin kalau sore itu dia akan membawa suaminya pulang kerumah seperti kejadian sebelumnya.
Setelah sampai di rumah sakit, dia melihat keadaan suaminya yang begitu lemah, menahan sakit yang teramat sangat.
Ternyata keadaan suaminya lebih parah jika dibandingkan saat masuk ICU pertama kali dulu. Saat menemui suaminya, wanita itu tidak diperbolehkan lama- lama bersama suaminya karena suaminya harus istirahat.
Malam itu suaminya harus menginap di ICU. Dengan lemah, suaminya meminta kepada perawat agar istrinya diperbolehkan tidur didalam kamar.
"Kasihan istri saya sus, diluar banyak nyamuk."
Suster membolehkan wanita itu sesekali masuk kedalam kamar.
Karena sangat khawatir dengan keadaan suaminya, wanita itu lalu memutuskan untuk menelpon kedua anaknya, mengabarkan keadaan ayah mereka saat itu.
Si sulung shock, dan langsung bergegas mencari tiket pesawat yang bisa membawanya pulang ke kampung halamannya secepatnya.
Si bungsu pun sama, dia langsung mencari kendaraan yang bisa membawanya pulang ke Sidoarjo malam itu juga.
Wanita itu sendirian di luar kamar rawat suaminya.
Hanya bisa memandang suaminya yang terbaring lemah sambil memanjatkan do'a kepada Sang Pemilik Nyawa agar rasa sakit yang mendera suaminya itu segera hilang dan suaminya bisa segera pulang kerumah dalam keadaan sehat.
Sendirian dan lemah, namun mulut wanita itu tidak pernah berhenti mengucapkan do'a untuk kesembuhan suaminya.
Kemudian mendadak perawat memanggil wanita itu untuk segera masuk ke kamar.
Rupanya kondisi suaminya semakin kritis.
Saat wanita itu masuk, keadaan suaminya sudah sangat memprihatinkan.
Pria itu memegang dadanya yang teramat sakit, mulutnya megap- megap menahan rasa sakit yang hebat.
Sakaratul maut. Itulah yang sedang dialami suaminya sekarang.
Wanita itu mendekat lalu memegang tangan suaminya, melantunkan do'a- do'a dengan khusyuk.
Tidak ada waktu untuk menangis, semua perhatiannya tercurah untuk melantukan do'a.
Dia ingin menjadi kuat agar suaminya juga menjadi kuat. Selama ini suaminyalah yang menjadi penopang hidupnya, sekarang saatnya bagi wanita itu untuk membalasnya, menjadi penopang bagi suaminya. Menjadi penguat disaat suaminya lemah.
Jadi dia tidak boleh lemah, dia harus kuat.
Perawat dan dokter berusaha semampu mereka,namun mesin pendeteksi detak jantung akhirnya menunjukkan sebuah garis lurus dilayarnya.
Suaminya meninggal.
Lalu apa yang dilakukan wanita itu?
Menangis meraung- raung?
Pingsan ditempat?
Memukul- mukuk dada suaminya dan berharap hal itu bisa menghidupkan suaminya lagi?
Tidak.
Dengan penuh ketabahan, wanita itu mengucapkan "Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un" dan menghayati penuh artinya, "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali."
Hanya ada kepasrahan mendalam dalam menjani takdir yang telah ditetapkan Allah atas dirinya dan suaminya.
Dengan akal sehat yang masih tersisa didalam dirinya, wanita itu mengusap wajah suaminya dengan lembut. Lalu menata tangan suaminya seperti posisi tangan orang yang sedang sholat. Telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri, diletakkan diatas dada. Lalu mengecup pipi suaminya sebagai tanda perpisahan.
Berusaha kuat untuk menahan tangisnya agar saat anaknya datang, dia bisa memberitahukan kabar sedih itu dengan penuh ketabahan.
Dia juga akan menjadi penopang untuk anak- anaknya.
Menghibur mereka saat kabar sedih itu mereka terima.
Itulah keajaiban cinta yang sesungguhnya. Hanya kekuatan cinta yang menguatkannya.
Cintanya pada suaminya begitu kuat hingga akal sehatnya masih bisa berjalan dan memikirkan bahwa lebih penting membenarkan posisi tubuh suaminya seperti posisi orang yang sedang sholat sebelum tubuh suaminya menjadi kaku, daripada menangis meraung- raung meratapi nasibnya.
Cintanya pada anak- anaknya begitu kuat hingga dia bersedia menjadi penopang dan penghibur hati mereka, dan bukan sebaliknya. Karena dia adalah seorang ibu, penjaga dan pelindung anak- anaknya.
Biarlah dia akan menikmati kesedihannya sendiri nanti, akan ada banyak waktu untuk melakukannya, tapi itu nanti, tidak sekarang, tidak saat anak- anaknya lemah karena berita duka itu.
Lalu siapakah wanita perkasa itu? Wanita tangguh yang mampu menyembunyikan remuk hatinya saat menemani sakaratul maut pria yang telah bertahun- tahun menemani hari- harinya?
Wanita yang mampu mempertahankan akal sehatnya saat suaminya meninggal dunia tepat didepan matanya?
Wanita kuat dengan ketabahan sekuat batu karang yang mampu menguatkan perasaan anak- anaknya saat perasaannya sendiri hancur lebur?
Wanita itu adalah orang yang selalu kupanggil dengan sebutan mama.
Ya, beliau adalah ibuku.
Dan akulah anak sulungnya, yang bergetar hebat saat mama menceritakan kisah itu padaku.
Sebagai anaknya, aku sendiri belum tentu bisa meneladani ketabahannya jika aku berada dalam kondisi mama saat itu.
Wanita adalah makhluk lemah, namun disisi lain bisa menjadi sangat kuat, terutama jika itu menyangkut keluarganya.
Keajaiban cinta dan pengabdian mampu membuat seorang wanita lemah menjadi sekuat batu karang.
Wanita adalah sosok nyata dari keajaiban cinta.
Alasan saya menginginkan buku A Miracle of Touch ini karena novel ini adalah novel pemenang berbakat novel Amore di GPU. Bukan sebuah penerbit kecil, ini penerbit GPU, jadi pastinya novel ini sangat berkualitas dan sangat bagus, hasil karya pilihan yang dipilih oleh tim sekelas penerbit GPU. Ditambah lagi setting novelnya diluar negeri (tepatnya di Singapura) dengan tokoh utama dari India dan disisipi beberapa kalimat berbahasa India sebagai pemanis, kombinasi tersebut pasti menjadikan novel ini ciamik dan patut dibaca.
~Alhamdulillah jadi juara tambahan~

























