Jumat, 31 Januari 2014

Hari #31: Semoga tetap istiqomah

Bismillahirrahmanirrahim...

 ﻭﻟِﻜُﻞٍّ ﻭِﺟْﻬَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻣُﻮَﻟِّﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ
ﺃَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻳَﺄْﺕِ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ

" Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba- lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-baqarah ayat 148).

Hari ini adalah hari terakhir #1Hari1Ayat, semoga tidak menjadi hari terakhir bagi kita untuk membuka Al Qur'an beserta tafsirnya dan semoga juga bukan hari terakhir kita untuk belajar.

Buat saya pribadi, #1Hari1Ayat ini saya jadikan tambahan perbuatan baik yang saya lakukan setiap harinya, insya Allah. Meluruskan niat untuk menambah pundi-pundi saldo amal baik, dan bukan hanya sekedar teori dalam postingan blog, namun juga saya usahakan untuk mengamalkan ayat-ayat tersebut dalam keseharian saya.

Beruntung sekali saya mempunyai teman-teman, baik di dunia nyata maupun dunia maya, yang melalui mereka saya jadi terpacu untuk selalu memperbaiki kualitas keimanan saya.
Saat saya melihat mereka melakukan perbuatan baik, saya jadi terpacu untuk melakukan hal yang sama, bahkan berusaha untuk lebih baik dari mereka.

Teman-teman dunia maya saya kebanyakan adalah wanita pekerja, namun mereka selalu punya waktu untuk belajar, baik itu belajar ilmu agama, kursus menjahit ataupun bergabung dalam grup ODOJ. Baik itu belajar lewat media online ataupun datang ke majelis taklim dan tempat kursus.

Dari mereka saya belajar, bahwa waktu untuk belajar tidaklah harus menunggu waktu luang, tapi kitalah yang harus menciptakan waktu luang itu untuk belajar.

Saya jadi termotivasi. Jika mereka yang sibuk, dengan jadwal kerja yang mengikat saja bisa, kenapa saya yang ibu rumah tangga ini, yang jam kerjanya fleksibel tidak bisa?
Saya pun bergabung dengan grup whatsapp, wadah yang tepat bagi saya untuk belajar, tidak perlu keluar rumah dan jam belajarnya pun fleksibel. Dari satu grup belajar agama, bertambah dengan grup belajar bahasa Arab.

Memang baru sedikit grup whatsapp yang saya ikuti, namun dari grup yang sedikit itu saya berusaha untuk mencerna dengan baik semua ilmu yang telah saya dapat. Maklumlah, memory tua, tidak bisa menampung terlalu banyak informasi. :)

Dan bismillah, saya meluruskan niat, bahwa apa yang saya lakukan ini semata-mata hanya mengharap ridho Allah, berharap bahwa perbuatan itu akan mendapatkan ganjaran yang baik yang dapat menambah saldo amalan baik saya, bukan hanya sekedar ikut-ikutan.

Jadi, pilihlah teman yang baik, lalu saat dia melakukan perbuatan baik, jangan tinggal diam, lakukanlah perbuatan yang sama bahkan lebih baik darinya.
Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan.




Kamis, 30 Januari 2014

Hari #30: Ayat pengobat galau

Bismillahirrahmanirrahim...


"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah ayat 153).

Al Qur'an memang kunci dari semua permasalahan hidup manusia. Termasuk ayat ini, yang bagi saya adalah obat bagi kegalauan saya saat dilanda peliknya masalah hidup.

Memohon pertolongan hanya kepada Allah merupakan ikrar yang selalu kita lafadzkan dalam setiap shalat kita, “Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami mohon pertolongan“.
Agar permohonan kita diterima oleh Allah, tentu harus mengikuti tuntunan dan petunjuk- Nya. Salah satu dari petunjuk-Nya dalam memohon pertolongan adalah dengan sentiasa bersikap sabar dan memperkuat hubungan yang baik dengan-Nya dengan menjaga shalat yang berkualitas. Disinilah shalat merupakan cerminan dari penghambaan kita yang tulus kepada Allah.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu," itulah pegangan saya. Saat saya dihadapkan pada masalah, sebisa mungkin saya akan bersabar. Bersabar menahan diri untuk tidak su'udzon kepada Allah atas masalah yang saya alami. Bersabar menahan diri untuk tidak lari dari masalah, untuk tidak melakukan perbuatan yang dibenci Allah sebagai bentuk protes saya atas masalah yang timbul. Bersabar menahan diri untuk tidak mengumbar masalah saya di sosmed ataupun curhat kepada orang lain. Bersabar menahan diri agar tidak marah dan meledak dalam menghadapi masalah tapi justru bersabar untuk mencari solusinya.

Kemudian sebisa mungkin saya mengambil wudhu lalu sholat. Karena sesungguhnya saat sholat kita juga sedang berdoa. Setelah sholat, hati akan jadi tenang. Lalu saya akan mengadukan semua permasalahan saya diwaktu berdoa sesudah sholat. Saya akan mengeluarkan semua uneg-uneg dan rintihan permohonan agar masalah saya bisa segera terselesaikan. Setelahnya hati saya akan menjadi lebih tenang, meskipun masalah saya mungkin belum terselesaikan, tapi dengan hati yang tenang, saya akan bisa memikirkan solusi terbaik untuk masalah saya dengan kepala dingin.

Sesungguhnya keimanan kita akan diuji saat kita mendapatkan cobaan. Apakah dengan cobaan itu kita akan menjadi hamba yang semakin dekat dengan Rabb kita ataukah sebaliknya, dengan adanya cobaan justru semakin menjauhkan kita dari Allah.


Hari #29: Baik Vs Buruk

Bismillahirrahmanirrahim....


"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang 
buruk." [QS. Huud: 114].

Sebagai manusia, tentu kita tak luput dari kesalahan. Ibaratnya, dosa dan kesalahan manusia itu lebih banyak daripada butiran pasir di pantai. Namun Allah dan Rasulullah memberikan solusi untuk menghapuskan dosa dan perbuatan-perbuatan buruk kita.
 

Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah
Saw kepada Abu Dzarr r.a. ketika beliau mewasiatkan kepadanya dengan wasiat yang agung ini, dan bersabda: "Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmizi].

Yang dimaksud adalah: seorang muslim, jika ia melakukan maksiat, hendaknya segera mengiringinya dengan kebaikan. Seperti shalat, shadaqah, puasa,
perbuatan yang baik, istighfar, dzikr, tasbih dan lainnya.

Jika kesalahannya itu adalah membicarakan keburukan orang lain di hadapan seesorang tertentu, maka kebaikan itu adalah memuji orang tadi dihadapan orang yang diajak berghibah sebelumnya, atau ia beristighfar kepada Allah SWT baginya.

Jika keburukannya itu adalah mencela seseorang di hadapan manusia, maka kebaikannya itu adalah menghormatinya, memuliakannya serta menyebutnya
dengan kebaikan.

Orang yang kejahatannya adalah membaca buku-buku
yang buruk, maka kebaikannya adalah membaca Al Quran, kitab hadits serta ilmu-ilmu Islam.

Orang yang keburukannya adalah menghardik kedua orang tua, maka kebaikannya itu adalah dengan berlaku sebaik-sebaiknya dengan keduanya dan memuliakannya serta berbuat baik kepadanya, terutama saat mereka dalam
usia lanjut.

Orang yang keburukannya adalah memutuskan silaturahim, serta berbuat buruk kepada saudara, maka kebaikannya adalah berbuat baik kepada mereka serta berusaha menjaga persaudaraan, walaupun mereka memutuskannya, dan memberi mereka walaupun mereka belum pernah memberi.

Jika keburukannya adalah duduk dalam tempat hiburan, main-main dan melakukan yang haram, maka kebaikannya itu adalah duduk di tempat kebaikan, dzikr dan ilmu yang bermanfaat.

Jika keburukannya adalah mengarang kitab yang menyesatkan, serta mengajak kepada kemungkaran dalam perkataan dan perbuatan, menyebarakan pemikiran yang menyesatkan serta mengajak kepada syahwat, maka kebaikannya itu adalah mengarang kitab yang melawan kecenderungan itu, mengajak kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf, serta melarang dari kemunkaran.

Barangsiapa keburukannya adalah menzhalimi manusia, memusuhi orang-orang lemah, serta mengganggu kehormatan mereka dan hak-hak material atau immaterial mereka, maka kebaikan mereka itu adalah berusaha menegakkan keadilan, berlaku jujur
kepada orang yang zhalim, membela orang-orang yang lemah, dan berusaha memperjuangkan hak-hak mereka.

Inilah kebaikan yang dapat menghapuskan dosa orang yang melakukan keburukan semampu ia lakukan.
Yaitu dengan melawannya, menghilangkan pengaruhnya, serta membersihkan diri dari pengaruhnya. Yaitu dengan meniti jalan yang
berlawanan dari perbuatan buruk itu, seperti dijelaskan oleh imam Al Ghazali. Karena orang yang sakit diobati dengan lawannya penyakit itu.

Subhanallah, betapa Allah Maha Pemurah lagi Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya.


Selasa, 28 Januari 2014

Hari #28: Saya tersentuh

Bismillahirrahmanirrahim...


"Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman ayat 29-30).

Ketika mencari-cari akan membahas ayat yang akan saya jadikan bahan hari ini, tiba-tiba saya membaca 2 ayat dr Ar Rahman ini.
Sungguh, saya tersentuh, hati saya bergetar.
Betapa Maha Besarnya Allah yang menampung dan mendengarkan setiap do'a dari seluruh makhluk-Nya yang ada di langit maupun di bumi.
Bahkan do'a-do'a remeh yang sepele, yang jika saya ceritakan kepada sesama manusia pasti akan dicuekin atau diremehkan, tapi tidak dengan Allah. Dia akan mendengarkan setiap keluh kesah saya, dari yang sepele hingga yang membuat air mata membanjir.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Saat Hana, anak kedua saya yang super aktif itu, membuat saya kewalahan dan kelelahan dengan segala tingkah polahnya, saya sering kali mengeluh, kenapa Hana tidak seperti anak perempuan yang lain? Yang manis, pendiam dan tidak banyak tingkah.
Begitulah, saat hati dan pikiran saya menyempit, yang terlihat dimata saya hanyalah kekurangan Hana.
Tapi saat saya melapangkan hati, membuka mata dan pikiran, yang saya lihat adalah betapa anak-anak seusia Hana masih banyak yang belum lancar berjalan, sedang Hana sudah berlari dan melompat kesana kemari. Dan kemudian terlihatlah kelebihan-kelebihan Hana yang lain.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Setiap hari saya selalu dipusingkan dengan pertanyaan saya sendiri, mau masak apa ya hari ini?
Sedangkan orang lain pun dipusingkan dengan pertanyaan lain, apa yang bisa dimakan hari ini? Bisakah hari ini saya makan setelah kemarin puasa seharian karena tidak ada makanan?
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

FABIAYYI AALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN.
Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam surat Ar Rahman, hal ini menandakan ada yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Bahwa sejatinya manusia itu bersifat pelupa dan Allah mengulang-ulang ayat itu supaya manusia selalu ingat untuk bersyukur. Bahwa disetiap kesempitan, pasti akan ada hikmah yang patut kita syukuri.






Senin, 27 Januari 2014

Hari #27: Teman-teman dunia mayaku

Bismillahirrahmanirrahim...


"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya
kamu mendapat rahmat." (QS Al Hujurat ayat 10).

Kira-kira dua tahun lalu, saya mulai mencari wadah untuk menimba ilmu agama di facebook. Lalu saya bergabung dengan sebuah grup di facebook. Dan disanalah awal mula ukhuwah saya dengan teman-teman dunia maya saya terjalin. Namun, seiring dengan bertambahnya anggota grup, makin bertambah pula perbedaan pandangan dan mengakibatkan semakin maraknya perdebatan di grup sehingga kami pun jadi malas menyambanginya karena pasti akan ada perdebatan tak berujung disana.

Teman-teman dunia maya saya ini kebanyakan adalah BMI (Buruh Migran Indonesia) yang bekerja di Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Dubai dan Singapura.

Karena jarang berkumpul di grup, kami mulai saling add dan confirm akun facebook satu sama lain dan meneruskan ukhuwah lewat saling berkomentar di status dan sapaan di wall.

Kemudian ukhuwah kami pun berlanjut ke whatsapp. Kami memberi nama grup itu dengan sebutan "Al Usroh" yang berarti keluarga. Dan disitulah kami bisa berkumpul dengan nyaman. Tetap dengan tujuan utama kami yaitu tholabul ilmi sambil menjalin ukhuwah.

Selama dua tahun ini saya merasa ukhuwah kami terjalin sangat erat, meski kami hanya berhubungan lewat dunia maya dan sebagian besar dari kami belum pernah bertemu langsung satu sama lain.
Mulai dari saling mengucapkan dan membalas salam di pagi hari dan saling mendoakan satu sama lain.
Lalu saling menyemangati saat ada yang merasa down, karena sebagai BMI, keadaan mereka yang jauh dari keluarga dan tekanan pekerjaan, membuat mereka merasa sering down. Dan mereka sendiri mengakui, bahwa dengan adanya teman-teman dunia maya di Al Usroh membuat hidup mereka di negeri orang jadi lebih mudah dijalani. Saat sedang senggang bekerja, mereka akan menyambangi Al Usroh dan kelelahan saat bekerja serta rasa rindu kepada keluarga di Indonesia sejenak terlupakan.

Meski mereka bekerja sebagai BMI, tapi keinginan mereka untuk belajar agama sangat kuat. Saya salut kepada mereka karena sebagian besar dari mereka juga bergabung dengan grup tholabul ilmi yang lain yang sifatnya lebih fokus kepada belajar, bahkan beberapa dari mereka juga bergabung dengan grup ODOJ. Mereka menyatakan bahwa daripada waktu senggang mereka gunakan untuk tenggelam dalam kesedihan merindukan dan memikirkan keluarga di tanah air, lebih baik mereka mengisi waktu senggang mereka dengan belajar agama.
Sungguh saya bangga memiliki teman-teman seperti mereka.

Kisah hidup dan pengalaman mereka telah membuat saya banyak bersyukur karena saya masih berada ditengah keluarga yang saya cintai dan semangat mereka untuk tetap menimba ilmu agama telah memotivasi saya untuk tetap semangat belajar ditengah kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga


Hari #26: Radio Hang FM tetap mengudara

Bismillahirrahmanirrahim...


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat info bahwa Hang FM, radio dakwah sunnah di Batam, sedang mendapatkan ujian berupa demonstrasi yang kontra terhadap dakwah sunnah dan menginginkan agar radio Hang FM ini ditutup.

Saya memang bukan asatidzah Hang FM, saya hanya pendengar yang sering mendengarkan ceramah atau kajian ilmiah Hang FM lewat radio.

Selain acara ceramah, radio Hang FM juga secara rutin membahas masalah seputar kesehatan, hukum atau bidang lain dengan mendatangkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Dan seperti radio lain, di radio Hang FM ini juga ada acara kirim salam untuk menjalin ukhuwah dan silaturrahim. Namun, selama sepengetahuan saya belum pernah ada acara memutarkan musik atau lagu di radio Hang FM.

Kembali ke masalah demonstrasi, alhamdulillah telah dilakukan mediasi dikantor pemerintah kota Batam antara pendemo dengan pihak Radio Hang Fm yang berjalan cukup lama. Acara dilakukan pada Rabu, tanggal 22 Januari kemarin, mulai pukul 10.00 s/d 15.00 WIB, dihadiri oleh komisaris Hang Fm, perwakilan pendemo, MUI dan Kementrian Agama kota Batam memutuskan untuk memberikan izin kepada Radio Hang FM untuk tetap mengudara. Alhamdulillah.

Saya jadi berpikir, ujian terhadap Hang FM dalam menegakkan agama Allah ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan umat muslim Rohingnya, atau saudara-saudara kita di Suriah.
Sungguh beruntung sekali kita tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan bisa bebas beribadah.





Minggu, 26 Januari 2014

(Tips) Solusi mengatasi tombol Home yang ngadat/rusak di iphone

Jadi ceritanya, si ipin -plesetan untuk iphone- ini usianya sudah dua tahun lebih. Dan seiring dengan semakin lanjutnya usia si ipin, maka hardware-nya pun mulai ngadat atau rusak. Nah, si ipin ini tombol Home-nya mulai sering ngadat dan rusak, membuat saya berkali-kali harus menahan diri untuk tidak melemparkannya ke dinding atau ke lantai.
*Maaf ya pin, aku sayang kamu, tapi tidak dengan tombol Home-mu.*

Saya terbiasa ber-multi tasking bersama ipin, dan tombol home memegang peranan penting untuk lompat dari satu aplikasi ke aplikasi lain.

Dan alhamdulillah, saya menemukan solusi untuk mengatasi tombol home yang ngadat/ rusak pada si ipin.

Caranya:
1. Pastikan iphone anda sudah ber-iOS 5 keatas. Tidak perlu di-jailbreak. Saat ini ipin ber-iOS 7.0.3, belum di-jailbreak.

2. Masuk ke menu  Settings > General > Accessibility >AssistiveTouch dan aktifkan/On fitur tersebut.


3. Setelah dinyalakan, anda akan melihat sebuah tombol transparan (AssistiveTouch) di layar yang bisa meniru fungsi tombol Home dan gesture lainnya.


4. Jika anda berada di sebuah aplikasi dan ingin menuju ke layar utama iphone anda, cukup sentuh tombol AssistiveTouch transparan di layar anda lalu sentuh tombol home yang berwarna biru seperti gambar diatas.
*sayang saat saya screen capture, tombol transparannya tidak bisa ikut terfoto*.

5. Kalau tombol transparan AssistiveTouch mengganggu aktifitas anda, jangan khawatir karena tombol ini bisa dipindahkan ke bagian layar manapun.

Dan senang sekali rasanya, saya kini bisa meminimalisir berurusan dengan tombol home fisik si ipin karena perannya telah tergantikan oleh tombol transparan AssistiveTouch di layar.
Namun, perlu diingat bahwa untuk melakukan screen capture, anda tetap harus menggunakan tombol fisik home di iphone anda.

Semoga bermanfaat :)

Sumber: http://hyllal-netheroes.blogspot.com/2012/11/solusi-bagi-tombol-home-yang.html


Sabtu, 25 Januari 2014

Hari #25: Keluh kesah dan kikir

Bismillahirrahmanirrahim...


"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir." (Al- Ma'arij: 19-21)

Hampir tiap hari, bahkan tiap saat kita selalu mendengar keluh kesah di tengah aktifitas kehidupan kita, keluh kesah yang kadang sangat erat hubungannya dengan kondisi jiwa dan iman yang sedang melemah.

Saat cuaca sedang panas mengeluh kepanasan, saat cuaca sedang hujan mengeluh kedinginan.
Saat diberi kenikmatan lalu melihat orang lain mendapat kenikmatan yang lebih maka akan kembali berkeluh kesah. Sungguh tidak ada rasa bersyukur terhadap nikmat Allah didalam hatinya, selalu saja berkeluh kesah.
Kemudian dia akan menceritakan kepada seluruh dunia tentang segala keluh kesahnya, seolah-olah dialah orang yang paling malang.

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.

Mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu untuk membeli pulsa akan sangat mudah dan ringan daripada bersedekah dengan nominal yang sama.

Ia mengira bahwa keberhasilan itu karena upaya dan jerih payahnya sendiri. Karena itu ia lantas bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan untuk pribadinya sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi budak bagi kerakusannya.

Begitulah sifat jelek manusia yang telah diterangkan dalam Al Qur'an. Sifat-sifat yang muncul karena kurang iman dalam diri. Suka berkeluh kesah dan kikir.

Lalu bagaimana solusinya agar diri ini terhindar dari sifat-sifat jelek itu?
Sifat pertama yaitu keluh kesah dapat dikikis dengan sholat, karena sholat merupakan sarana berkeluh kesah yang sesungguhnya, yaitu berkeluh kesah kepada Allah yang dapat menghilangkan kesedihan dan kedukaan sehingga
berubah menjadi kebahagiaan dan ketenangan. Karena Dia-lah satu-satunya penolong dan pelindung terbaik. Maka tumpahkanlah segala keluh kesahmu hanya kepada Allah semata.

Sifat kedua yaitu kikir, dapat dikikis dengan cara melatih diri untuk biasa berbagi dengan kelebihan yang Allah titipkan kepadanya. Perasaan dan kesadaran tentang adanya hak di
dalam hartanya untuk orang miskin adalah salah satu bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Menanamkan dalam diri bahwa dengan bersedekah tidak akan membuat harta kita berkurang namun justru akan bertambah dan dilipatgandakan oleh Allah jika kita mengetahui matematika Allah.

Tulisan ini saya buat bukan karena ingin menasehati orang lain dan merasa diri saya sendiri sudah bersih dari sifat-sifat jelek diatas. Bukan. Tulisan ini saya buat karena orang pertama yang ingin saya ingatkan soal bahaya memiliki sifat-sifat tersebut adalah diri saya sendiri yang kadang lupa bahwa ada Allah sebagai tempat terbaik untuk berkeluh kesah dan kadang harus berpikir dua kali sebelum mengeluarkan sejumlah uang untuk bersedekah.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk diri saya sendiri dan untuk orang lain yang membacanya.




Jumat, 24 Januari 2014

Hari #24: Sami'na wa atho'na

Bismillahirrahmanirrahim...

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺻَﺮَّﻓْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻣَﺜَﻞٍ ۚ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺷَﻲْﺀٍ ﺟَﺪَﻟًﺎ

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Q.S. Al Kahfi 18:54).

Yang Menciptakan tentulah yang paling memahami ciptaan-Nya. Dan ayat diatas memang benar adanya. Bahkan di jaman sekarang ini, manusia semakin pintar membantah. Semakin pintar mencari-cari alasan, semakin pintar berdebat, dan yang paling parah semakin pintar untuk mencari dalil-dalil pendukung untuk menyalahi aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dahulu, pada masa awal dakwah Rasulullah, setiap perintah dan larangan yang datang selalu direspon umat di masa itu dengan menggunakan instrumen keimanan. Tidak peduli apakah ia, menguntungkan atau merugikan, mudah ataupun sulit. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh keta’atan. Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taati. Termasuk di dalamnya ketika muncul kasus pengharaman babi secara kontekstual dalam Al-Qur’an. Para sahabat tidak lantas sibuk menanyakan dan bertanya-tanya. Kenapa? Apa bahayanya? Buah keimanan adalah munculnya khudznudzon mereka kepada Allah. Yakin bahwa di dalam larangan itu pasti ada kebaikan.

Contoh lain saat ayat tentang perintah berjilbab, yaitu surat An- Nuur ayat 31 turun, Aisyah Radhiyallahu 'anha langsung menyobek tirai dan menggunakannya sebagai jilbab. Betapa mereka sangat patuh dan taat terhadap aturan-aturan yang ditetapkan Allah.
Lain Aisyah Radhiyallahu 'anha, lain lagi manusia jaman sekarang, yang membantah bahwa berjilbab bukanlah merupakan kewajiban tapi sunnah, dan menganggap berjilbab adalah budaya Arab dan bukan merupakan perintah agama. 

Maka kita sebagai seorang hamba, kita harus mendahulukan substansi “sami’na wa’atho’na” dan bukan “sami’na, sebentar, saya pikir-pikir dulu mau tho’at atau tidak?”.
Yang pasti, Allah akan memberikan ganjaran surga bagi hamba-Nya yang mau menaati aturan-aturan-Nya dan Rasul-Nya. Apalagi diakhir jaman seperti sekarang ini, dimana carut-marut kehidupan semakin merajalela dan satu-satunya cara agar selamat dunia akhirat adalah dengan memegang teguh Al Qur'an dan As Sunah sebagai pedoman, menaatinya tanpa membantah, sami'na wa atho'na.




Kamis, 23 Januari 2014

Hari #23: Jangan mengumbar aib pasangan

Bismillahirrahmanirrahim...

ﺃُﺣِﻞَّ ﻟَﻜُﻢْ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺮَّﻓَﺚُ ﺇِﻟَﻰ ﻧِﺴَﺂﺋِﻜُﻢْ ﻫُﻦَّ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻬُﻦَّ ﻋَﻠِﻢَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺘﺎﻧُﻮﻥَ ﺃَﻧﻔُﺴَﻜُﻢْ ﻓَﺘَﺎﺏَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﻋَﻔَﺎ ﻋَﻨﻜُﻢْ ﻓَﺎﻵﻥَ ﺑَﺎﺷِﺮُﻭﻫُﻦَّ ﻭَﺍﺑْﺘَﻐُﻮﺍْ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu”. (QS. Al-Baqoroh [2]:187)

Yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah kata “Libas” yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah Libas bagi istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya.
Kata “Libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan
dan kenikmatan.

Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh. Suami istri adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah penutup “aurat” (baca: aib) bagi pasangannya.

Fungsi pakaian juga sebagai perhiasan. Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki dan atau
memandang perhiasan mendatangkan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan.

Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.

Yayah -suami saya- mewanti-wanti pada saya agar tidak menyebarkan aib rumah tangga, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata, termasuk aib suami saya sendiri.
Begitu banyak status di facebook yang berisi keluhan istri terhadap suaminya. Entah itu meeting yang terlalu sering atau pulang kerja terlalu malam atau semacamnya.
Begitu pula saat ibu-ibu berkumpul, godaan untuk membicarakan aib suami sangatlah besar. Biasanya -namun tidak selalu dan tidak semua ibu-ibu- jika ibu-ibu sedang berkumpul, topik pembicaraan yang sering dibahas selain soal anak adalah soal suami.

Biasanya saat sedang bertengkar, saat sedang marah, aib pasangan sangat mudah terblow up keluar karena rasa emosi.
Mudah sekali tangan ini menulis curhatan-curhatan ke sosial media seperti facebook, yang ujung-ujung menceritakan aib pasangan. Juga saat marah, mudah sekali mulut ini menceritakan aib pasangan pada tetangga dekat atau sahabat kita sendiri, yang ujungnya juga sama, yaitu menceritakan aib pasangan.
Karena itulah suami istri harus segera menyelesaikan masalah rumah tangga yang timbul dan tidak membiarkannya berlarut-larut.

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah nasehat yang sangat bagus dari generasi salaf Ash Shalih, Abu Ad Darda radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Ummu ad Darda:
“Jika kamu melihat aku sedang marah maka maafkanlah aku, jika aku melihatmu dalam keadaan marah, maka aku memaafkan kamu, kalau tidak,
kita tidak akan bisa hidup bersama”.



Hari #22: Takut "Jarkoni"

Bismillahirrahmanirrahim....


"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" (QS. Al-Qiyamah ayat 36).

Akhir-akhir ini ide untuk menulis #1Hari1Ayat semakin sulit saya dapat. Sebenarnya banyak ayat yang menarik untuk dibuat postingan, tapi biasanya diakhir tulisan akan ada ajakan atau nasehat yang berkaitan dengan ayat yang sedang dibahas. Dan saya takut jarkoni.

Apa itu jarkoni? Salah seorang teman mengajari saya istilah jarkoni ini.
Jarkoni adalah singkatan dari petuah dalam bahasa jawa, yaitu "iso ujar tapi ora iso ngelakoni."
Yang kurang lebih artinya adalah "cuma bisa ngomong tapi nggak bisa melaksanakan", alias cuma omong doang.

Saat saya ingin membahas soal tahajjud, saya teringat agar tidak tidak jarkoni.
Saat akan membahas soal dzikir pun suami mengingatkan saya agar tidak jarkoni.
Well, saya selalu berusaha untuk hati-hati dalam berucap dan menulis. Bahwa seperti yang tertulis dalam ayat diatas, bahwa setiap manusia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Lantas apa berani saya menulis apa yang tidak saya laksanakan?

Berikut saya sertakan kisah teladan dari Rasulullah tentang nasehat terbaik.

Pada suatu hari Rasulullah SAW mendapat tamu seorang ibu bersama seorang anak lelakinya. Anak tersebut masih kecil dan terlihat agak gemuk. Sang ibu berkata pada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, aku mohon nasehatilah anakku ini agar tidak terlalu banyak makan kurma!”
Rasulullah pun mengangguk dan berkata, “Baiklah. Sekarang ibu pulang dan kembalilah seminggu lagi.”
Ibu itu agak heran, mengapa Rasulullah tidak segera mengeluarkan nasehat untuk anaknya. Tetapi dia taat dan segera pulang bersama anaknya.
Tepat seminggu kemudian, ibu itu datang kembali bersama anaknya. Dia segera menemui Rasulullah dan menagih nasehat dari Rasulullah. Dengan lembut Rasulullah berkata pada anak itu, “Wahai anak yang baik, kurangilah makan kurma!”
Ibu itu tidak dapat menahan keheranannya, mengapa untuk sebuah kalimat sederhana dari Rasulullah mereka harus menunggu seminggu lamanya? Dia pun menanyakannya pada Rasulullah,
“Ya Rasulullah, mengapa untuk satu nasehat pendek ini tuan menyuruh kami menunggu satu minggu lamanya? Bukankah bisa saja tuan katakan nasehat ini seminggu yang lalu?”
Rasulullah menjawab, “Benar, Ibu. Tetapi sebelum mengatakan nasehat tersebut, selama seminggu ini aku sendiri mengurangi jumlah kurma yang kumakan.”

(Rasulullah biasa berbuka puasa dengan satu atau tiga biji kurma sehari. Selama seminggu itu Rasulullah mengurangi jatah berbuka hingga setengahnya).
******

Begitulah kehati-hatian Rasulullah dalam memberi nasehat, bahkan pada anak kecil sekalipun. Alangkah baiknya nasehat itu jika telah diamalkan sebelumnya oleh si pemberi nasehat, bukan hanya sekedar teori semata, tapi juga sudah dipraktekkan sendiri.

Jadi saya ingin, sebelum saya menulis ayat tentang tahajjud, saya telah merutinkan sholat tahajjud lalu saya berani menuliskannya.
Sebelum saya menulis ayat tentang dzikir, saya ingin lidah saya selalu basah oleh bacaan-bacaan dzikir.
Jadi saat 'nanti' saya diminta pertanggungjawaban, tangan saya yang menulis postingan penjelasan soal sebuah ayat, dan seluruh anggota tubuh saya yang telah melaksanakan apa yang saya tulis bisa memberikan kesaksian yang sama.
Insya Allah.


Selasa, 21 Januari 2014

Hari #21: Garam dan Telaga

Bismillahirrahmanirrahim...


"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar
(imannya); dan mereka itulah orang- orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah ayat 177).
*****

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama.

Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum.

Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta
riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda.

Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.
“Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
*****
Dalam surat Al Baqarah ayat 177 diatas disebutkan bahwa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah adalah barometer keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar. Aamiin.


Hari #20: Sakinah, Mawaddah, Warrahmah

Bismillahirrahmanirrahim...



“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum [30]:21)

Dalam ayat diatas terdapat istilah sakinah, mawaddah dan warrahmah yang didambakan oleh setiap pasangan dalam pernikahan mereka.
Berikut saya rangkumkan pengertian sakinah, mawaddah dan warrahmah dari berbagai sumber.

Sakinah.
Yang pertama, "Litaskunu ilaiha".
Taskunu dari perkataan 'sakana' yang berarti diam. Diam dan tenang, yang sebelumnya bergoncang dan sibuk.
Jadi pernikahan adalah tempat untuk lelaki dan perempuan memperoleh ketenangan dari dunia luar yang amat sibuk lagi meresahkan.
Seperti orang yang penat dengan kesibukan dan kebisingan siang lalu menemukan kenyamanan dan
ketenangan dalam kegelapan malam. Seperti itulah kira-kira gambaran pernikahan yang sakinah.

Mawaddah dan warrahmah.
Mengenai pengertian mawaddah menurut Imam Ibnu Katsir adalah al mahabbah (rasa cinta) sedangkan ar rahmah adalah ar-ra’fah (kasih sayang).

Dalam tafsir al Alusi penulis mengutip
pendapat Hasan, Mujahid dan Ikrimah yang menyatakan mawaddah adalah makna kinayah dari nikah yaitu jima’ sebagai konsekuensi dari pernikahan. Sedangkan ar rahmah adalah makna kinayah dari keturunan yaitu terlahirnya keturunan dari hasil pernikahan.

Masih dalam tafsir al Alusi ada juga yang mengatakan bahwa mawaddah berlaku bagi orang yang masih muda sedangkan ar-rahmah bagi orang yang sudah tua. Implementasi dari mawaddah wa rahmah ini adalah sikap saling menjaga, melindungi, saling membantu, memahami hak dan kewajiban masing-masing.

Salah bentuk perwujudan sebuah pernikahan yang didalamnya terdapat unsur sakinah, mawaddah dan warrahmah adalah adanya tenggang rasa antara suami istri. Salah satunya adalah memahami dan memaklumi kapan suami atau istri sedang marah.

Jadwal marah dan ngomel-ngomelnya suami adalah disaat pulang kerja, karena disaat itulah suami merasakan penat dan lelah.
Maka sikap idealnya sang istri adalah memahami keadaan suaminya, memakluminya dan berusaha mencari sesuatu yang dapat meredakan kepenatan dan kelelahan suaminya, berusaha menyambutnya dengan senyuman dan wajah yang menentramkan meskipun sang istri sendiri juga lelah dengan pekerjaan rumah tangga.

Jadwal cemberut dan bawelnya istri adalah ketika anak-anak terlalu rewel, atau ketika pekerjaan rumah terlalu banyak dan sebagainya.
Maka sikap idealnya sang suami adalah memahami keadaan istrinya, memakluminya dan berusaha mencari sesuatu yang dapat meredakan amarah dan bawelan sang istri, serta jangan sekali-kali ikutan marah atau bawel, bantulah sang istri tanpa menunggu dia memintanya. Hal itu akan sangat melegakan hati sang istri, meski bantuan itu hanya merupakan bantuan kecil tapi hal itu setidaknya dapat menenangkan emosi istri, melihat suaminya bertindak dan melakukan sesuatu untuk membantunya.

Saya sendiri, dimana usia pernikahan kami baru berumur enam tahun, masih sedang dan terus berusaha bersama suami dan anak-anak untuk mewujudkan pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.


:D


Minggu, 19 Januari 2014

Hari #19: Saat tangan dan kaki bicara

Bismillahirrahmanirrahim...

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَا هِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ( ٦٥)

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. Yaasin ayat 65).

"Eh, kemarin kamu ikut giveaway di blog itu kan? Yang temanya soal resolusi tahun 2014."
"Ya ikut dong. Aku kan giveaway hunter."
"Trus, gimana kabar resolusi kamu sekarang? Sudah sampai mana progress-nya?"
"Progress apa? Aku kan cuma nulis aja, aku buat semenarik mungkin biar menang."
"Jadi, itu hanya sekedar tulisan? Yang nggak kamu laksanakan?"
"Yaa.. Gitu deh."
*****

"Kok sekarang si fulanah jarang komen atau ngasih jempol di statusmu? Padahal kan biasanya kalian saling tukar komen atau jempol di FB."
"Dia aku remove."
"Lho, kenapa?"
"Habisnya dia sewot waktu aku nyindir dia di statusku. Lah, itu kan wall aku sendiri. Suka-suka aku dong, mau nulis apa."
*****

Kira-kira saat segala amal perbuatan kita dihitung nanti, tangan kita akan berkata apa jika kita doyan menulis segala sesuatu yang tidak kita laksanakan?
Atau tangan kita akan berkata apa jika kita membicarakan atau menggibah orang lain lewat tulisan hingga membuat orang lain tersakiti, bahkan sampai tali silaturrahim terputus karenanya?
Na'udzubillah.

Tangan, yang selama ini diam dan hanya melakukan apa yang kita inginkan
atas perintah hati. Kaki, yang selama ini membisu dan hanya melangkah ke tempat yang kita mau atas kehendak qalbu. Namun ketika tiba waktunya, atas izin Allah SWT kedua anggota badan tersebut akan berkata dan menjadi saksi atas segala perbuatan kita. Maka jaga dan luruskanlah kedua tangan dan kaki kita dari hal yang dilarang oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga tangan dan kaki ini akan berkata sebagai saksi yang menyelamatkan dan menjadi jaminan syurga bagi kita.

Teringat sebuah lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Karya Taufiq Ismail yang dilantunkan oleh Chrisye.

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

 Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami

Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina

Sebelum menulis apapun, di media apapun, hendaknya kita, khususnya saya sendiri, selalu ingat pada ayat ini, bahwa kelak tangan dan kaki akan berbicara, memberi kesaksiannya. Bahwa setiap perbuatan, meski sekecil zarrah pun akan dihisab, termasuk perbuatan yang dilakukan oleh tangan dan kaki kita.
Astaghfirullah...
Mari perbaiki diri mulai sekarang.




Hari #18: Semoga Aria menjadi anak yang sholeh

Bismillahirrahmanirrahim...


"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang- orang saleh." (QS. Ash-Shaffat ayat 100).

Ayat diatas adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as. dan juga merupakan do'a yang saya dan suami panjatkan untuk anak-anak kami.

Hari ini Aria, putra sulung kami, melaksanakan tes masuk SDIT. Ini adalah salah satu bentuk ikhtiar kami, sebagai orang tua, agar kelak Aria menjadi anak yang sholeh. Dengan keterbatasan ilmu agama kami sebagai orang tuanya, maka kami menyekolahkan Aria ke SDIT agar dia mendapatkan ilmu agama yang jauh lebih baik dari kami. Tentu kami tidak menyerahkan pendidikan agama sepenuhnya kepada pihak sekolah, karena kami sebagai orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anak.

Subhanallah, sejak masuk TK IT, Aria sering sekali 'menyentil' kami dengan polosnya. Seperti misalnya saat saya buru-buru masuk kamar mandi, Aria mengatakan "Kok mama nggak baca doa mau masuk kamar mandi?"
Atau saat dia secara rutin mengucapkan do'a sesudah makan disaat kami hanya mengucapkan sebatas, "Alhamdulillah."
Sering juga dia membacakan hadits larangan makan dan minum sambil berdiri saat melihat adiknya makan atau minum sambil berdiri.
Bahkan sebelum keluar rumah, dia selalu mengingatkan kami untuk membaca do'a.
Dan kami sebagai orang tua, semakin sadar tentang pentingnya memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kami, karena sebelum menyuruh Aria menghapalkan do'a-do'a harian seharusnya kami yang lebih dulu menerapkan do'a-do'a tersebut dalam keseharian kami.

Beberapa kejadian bahkan membuat saya terharu dan bangga.
Misalkan saat anak-anak seusianya melantunkan lagu cinta yang tidak sesuai dengan umur mereka, Aria justru melantunkan lagu hapalan surat-surat dalam Al-Qur'an yang didapatnya dari sekolah, atau lantunan lagu asmaul husna yang dia lantunkan sambil bermain PS atau saat dia sedang asyik mewarnai gambar. Sungguh saat mendengarkannya membuat hati saya tenang dan bangga.

Bagi saya dan suami, anak adalah investasi. Disaat masih kecil seperti sekarang ini, kami sebagai orang tua, berusaha maksimal membentuk karakter Aria, menanamkan pondasi agama yang kuat dalam dirinya, jadi saat dia beranjak remaja, saat lingkungan berpengaruh begitu besar terhadap kepribadiannya, Aria memiliki karakter dasar yang berpegang teguh pada tali agama, Al-Qur'an dan As-Sunah.
Dan saat Aria dewasa, dia akan menjadi anak sholeh yang menjadi ladang amal yang pahalanya tidak pernah putus bagi kami meskipun kami sudah meninggalkan dunia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥُ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٍ ﻭَﻋِﻠْﻢٍ ﻳُﻨْﺘَﻔَﻊُ ﺑِﻪِ ﻭَﻭَﻟَﺪٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﻟَﻪُ

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Karena anak sholeh adalah hasil kerja keras dari orang tuanya, sehingga orang tuanya berhak mendapatkan pahala yang terus mengalir dari do'a-do'a yang dilantunkannya.

Itulah yang kami harapkan dari anak-anak kami, agar kelak mereka menjadi anak yang sholeh sholeha. Aamiin.


Jumat, 17 Januari 2014

Hari #17: Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung terbaik

Bismillahirrahmanirrahim...

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًا وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ  ( ١٧٣).

"Yaitu orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya," Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangbkamu, karena itu takutlah kepada mereka," ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (QS. Ali Imran ayat 173).

Malam itu aku sama sekali tidak bisa tidur karena besok adalah hari terakhir batas waktu pembayaran SPP ku. Jika besok aku tidak menyetorkan sejumlah uang sebagai pelunasan SPP ku yang telah menunggak selama lima bulan, maka aku terpaksa harus berhenti sekolah.

Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki ibu mendekat. Aku memutuskan untuk pura-pura tidur saja agar ibu tidak mengetahui kecemasanku.

Kurasakan hembusan berat nafas ibu. Seraya mengusap mata tuanya yang berair, ibu berbisik padaku, “Insya Allah, besok ada rezeki untuk bayar SPP-mu, nak."

Aku tahu, ibu hanya bermaksud menguatkan hatiku.
Aku tahu, ibu tak pernah tahu rezeki dari mana yang dimaksudnya tadi.

Mataku baru memejam sekejap saat kudengar deru tangis ydari ruang kamar ibu.
Pukul 03.00 WIB. Kuintip dari balik korden tua kamar ibu, tampak ibu sedang bersujud dengan mukenahnya sambil menangis begitu sedan. Doanya terdengar sangat dalam, seakan tengah mengadu pada Allah bahwa besok beliau sangat membutuhkan sejumlah uang untuk menyelamatkan pendidikanku.
Sayup-sayup kudengar lantunan dzikir ibu, "Hasbunallah wa ni'mal wakiil." Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Ingin rasanya aku menyerah dan berhenti sekolah saja karena SPP ku setiap bulannya sangat membebani ibu. Aku tidak tega harus melihat ibu menderita seperti ini karena aku.
Tapi ibu selalu saja mencegahku, beliau ingin aku mendapatkan pendidikan yang baik. Tidak perduli sesulit apapun caranya, ibu pasti akan menemukan jalan untuk membayar SPP ku, begitulah yang beliau katakan untuk meyakinkanku.

Keesokan paginya, aku bangun dengan malas. Aku malas pergi ke sekolah karena tahu bahwa aku datang ke sekolah hanya untuk diusir keluar karena hari ini aku belum berhasil menyetorkan uang untuk membayar tunggakan SPP ku.

Tiba-tiba pintu rumah kami diketuk dengan tergesa-gesa. Aku bergegas membukakan pintu karena kutahu jam segini pasti ibu sudah berangkat ke pasar.
Ternyata kakakku.
"Tadi malam aku kerja lembur sampai malam dan bosku langsung memberikanku uang lembur," ucap kakak sambil menyerahkan sejumlah uang padaku. "Pakailah untuk membayar tunggakan SPP mu."

Alhamdulillah. Aku langsung menghambur ke pelukan kakak dan berterima kasih padanya. Segera aku bersiap-siap berangkat ke sekolah, namun sebelumnya aku akan mampir ke pasar untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada ibu.


Kamis, 16 Januari 2014

Hari #16: Adab bertamu

Bismillahirrahmanirrahim...


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27).

Dalam Islam, hal mengenai adab bertamu pun sudah diatur, bahkan juga disebutkan secara khusus didalam Al-Qur'an.

Terkadang seseorang bertamu dengan
memanggil-manggil nama yang hendak
ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya.
Rasulullah mengajarkan, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk.

“Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabda beliau:

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata:
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka
pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu.

Namun kenyataannya, antar tetangga, terutama tetangga dekat, yang sudah seperti saudara sendiri, kadang suka nyelonong masuk saat memasuki rumah orang lain karena sudah menganggap hubungan antar tetangga itu sudah sedemikian dekat hingga menganggap sah sah saja nyelonong masuk kerumah orang lain.

Padahal bisa jadi tuan rumah itu dalam keadaan seadanya, dimana dia merasa nyaman dengan keadaan seadanya itu karena merasa aman didalam rumahnya sendiri, namun merasa tidak nyaman jika orang lain melihatnya dalam keadaan seperti itu.

Ada juga tamu yang terus menerus mengucapkan salam dan malah memperkeras ketukannya di pintu karena merasa tidak ada jawaban dari dalam rumah, dimana saat itu tuan rumah mungkin sedang tidur sehingga hal itu sangat mengganggu privasi si tuan rumah.

Sebenarnya masih banyak adab bertamu yang telah diajarkan oleh Rasulullah, yang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang sopan dan santun, bahkan saat kita bertamu kerumah orang lain menuntut kita untuk tetap menjaga sopan santun.
Namun karena keterbatasan karakter yang disyaratkan :p dan sudah malam juga, maka postingan ini saya cukupkan saja sampai disini.
Semoga bermanfaat :)