
credit.
"Sudahlah sayang, lebih baik kita renovasi saja rumah ini. Kau pasti jenuh menggendongku setiap hari", Lastri menyembunyikan wajahnya dibalik leherku.
"Sayang, menggendongmu setiap hari seperti ini adalah kebahagiaan bagiku", aku mencium pipinya sekilas.
Pipinya bersemu merah. Malu-malu.
Rumah ini kami tinggali berdua saja, bersama pembantu rumah tangga paruh waktu.
Dunia kecil kami berpusat di lantai dua, yang ternyata membuat Lastri kesulitan untuk bergerak di rumah kami sendiri sejak peristiwa kecelakaan itu.
Sebagai suaminya, setiap harinya aku menggendong Lastri naik turun tangga.
Tangga ini adalah saksi bisu betapa besar pengorbananku untuk Lastri.
"Oh ya, kemarin pak Anton memintaku untuk menulis surat wasiat".
Aku mengerutkan alis mendengar ucapan Lastri.
"Karena tidak ada perkembangan yang berarti pada kondisiku", lanjutnya.
Lastri adalah janda dari seorang pria tua kaya raya. Mereka tidak mempunyai anak, dan suaminya yang sakit-sakitan menuliskan dalam surat wasiatnya bahwa Lastri-lah yang berhak menerima seluruh harta kekayaannya.
Aku meletakkan Lastri perlahan-lahan di kursi roda yang telah kusiapkan di ujung tangga.
"Sayang. Kau tahu, aku selalu menyukai kedermawananmu pada mereka yang tidak seberuntung kita", aku menunduk dan meraih tangannya, mengecupnya lalu memandang lurus ke matanya.
"Tapi kaulah yang setiap hari menggendongku, hanya agar aku bisa menikmati cahaya matahari pagi dan udara segar".
Aku membalas ucapannya dengan senyuman.
"Aku berangkat kerja dulu, sayang. Aku yakin kau pasti akan mendengarkan kata hatimu", Lastri meraih tanganku lalu menciumnya.
*****
"Bagaimana kabar istrimu?", wanita cantik itu menyalakan api pada rokok di mulutku.
"Obatnya sudah kutukar. Tentu saja keadaannya semakin melemah sekarang"
"Lalu, surat wasiatnya?"
"Pak Anton sudah mendesaknya, sekarang perempuan itu pasti sedang menyelesaikannya", aku menghembuskan asap rokokku ke udara.
"Kau hebat sekali. Menggendongnya setiap hari dan melayaninya seperti seorang kacung selama setahun ini"
Aku mendengus.
"Aku menggendongnya naik turun tangga setiap hari hanya agar namaku tercantum di surat wasiatnya. Tapi sekarang kesabaranku semakin menipis", aku menekan ujung puntung rokokku ke dasar asbak dengan kesal.
Wanita itu berjalan mendekat lalu duduk dipangkuanku.
"Sebentar lagi, my dear hero. Sebentar lagi uang itu akan jadi milik kita, lalu kita akan bersenang-senang menghabiskannya berdua di luar negeri", wanita itu menciumku dengan penuh nafsu.
Rasa kesalku pun lenyap.
*****
Aku menggendong Lastri dengan hati-hati lalu membawanya menuruni tangga untuk makan malam bersama.
"Aku sudah menyerahkan surat wasiatku pada pak Anton tadi siang", Lastri menatap lurus padaku. Aku melihat kebawah mencari-cari anak tangga yang tertutup tubuh Lastri, dan menuruninya dengan hati-hati.
"Aku memikirkan kata-katamu tadi pagi, dan kuputuskan untuk membagi seluruh hartaku kepada lima lembaga sosial dan panti asuhan yang kutunjuk"
Bagai habis dipukul dengan beban berat, kepalaku mendadak terasa nyeri.
Langkahku terhenti.
Kulihat kami baru menuruni tiga anak tangga di belakang kami. Yang artinya masih banyak anak tangga untuk sampai kebawah.
"Kau baik-baik saja, sayang?"
Suara Lastri membuat nyeri di kepalaku semakin menjadi.
Ternyata lengkingan suara Lastri beradu dengan suara tubuhnya yang menghantam beberapa anak tangga membuat nyeri di kepalaku mereda.


mbk .. yg Ini bagus bgt ceritanya.. meski gk tuntas tp udah bisa nyimpulin dwe
BalasHapus