Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Kemudian Vivienne melepaskan pelukannya dan menatapku marah.
Plakk!!
Vivienne menamparku dengan keras. Menyisakan bekas telapak tangannya yang memerah di pipiku.
"Kenapa kau menamparku?!"
"Karena kau kejam, Raka! Kau kejam! Aku nggak mau diputuskan dengan cara seperti ini. Ini baru 2 minggu! Kenapa kau tidak memberiku waktu lebih lama lagi?", Vivienne berteriak histeris.
Aku memeluknya lagi untuk menenangkannya.
"Sayang, sebelum pacaran denganku kau tahu betul aku ini cowok macam apa. Aku tidak bisa berkomitmen. Aku ini cowok bebas yang selalu menyukai hal-hal baru"
Plakk!!
Vivienne menamparku lagi lalu dia bergegas meninggalkanku tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
***
"Kau cantik sekali hari ini, Cinthya", aku memandangi cewek dihadapanku ini dengan mesra, lalu mengecup tangannya. Dia menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah.
Kena, kau.
Di belakang Cinthya, kulihat seorang cewek dengan wajah familiar tapi tak bisa kuingat namanya, tiba-tiba mendekati meja kami di cafe itu.
"Aku hamil"
Aku terbelalak kaget mendengar ucapan cewek itu.
Dengan cepat, Cinthya mengambil gelasnya dan menyiramkan orange jus pesanannya ke wajahku lalu bergegas pergi.
Wah...ikut deg2an nih hohohoho. nice story ;)
BalasHapusHehehee...
BalasHapusMakasih sudah berkunjung :)
goodjob, Vie... ;)
BalasHapus