Oktober 2011...
Itu adalah saat yang paling menyedihkan buat saya. Karena pada tanggal 5 Oktober 2011, saya dan suami mendapat kabar kalau papa saya meninggal. Kami langsung terbang menuju Surabaya secepatnya.
Setelah suasana sedih mereda, tamu berkurang, kerabat kembali kerumah masing-masing, saya mulai merasa tidak enak badan, kepala ini sering pusing dan perut saya mual.
Awalnya saya kira karena efek sedih yang mendalam,tapi akhirnya saya sadar kalau sudah terlambat haid lebih dari seminggu.
Masih di Surabaya, saya putuskan untuk mengetes urine saya dengan test pack. Dan alhamdulillah hasilnya postitif.
Dan kabar kehamilan saya menjadi pemberi sedikit kegembiraan di tengah kesedihan yang tengah dialami keluarga besar saya.
Saya tidak ingin terus larut dalam kesedihan karena pasti akan berdampak buruk bagi janin saya.
Kami kemudian kembali ke Batam.
Kira-kira sebulan setelah test pack menunjukkan hasil positif, saya melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
Alhamdulillah semuanya normal.
Saya melalui masa-masa kehamilan dengan lancar.
Setiap saya kontrol ke dokter kandungan dan bertanya tentang jenis kelamin janin, dokter selalu menyatakan kalau janin saya berjenis kelamin perempuan.
Meski saya melahirkan anak pertama saya secara caesar 4 tahun lalu, tapi dokter membuat saya optimis dengan menyakinkan bahwa saya bisa melahirkan secara normal.
Saya pun semakin rajin berjalan kaki di trimester akhir kehamilan.
Saat melahirkan anak pertama, saya mengalami pecah ketuban yang hebat dan saat sampai di rumah sakit, dokter menyatakan kalau air ketuban saya sudah kering dan harus segera dioperasi, maka saat itu saya tidak mengalami kontraksi dan mulas selama melahirkan.
Hanya pecah ketuban dan tahu-tahu bayi saya sudah lahir.
Jadi saya belum ada pengalaman bagaimana rasanya mulas saat kontraksi, juga belum pernah merasakan proses pembukaan.
Tapi saya membekali diri dengan banyak membaca dan mendengarkan pengalaman ibu-ibu lainnya.
29 Mei 2012...
Kelahiran sudah tinggal menunggu harinya.
Pagi itu seperti biasa, saya jalan kaki keliling kompleks perumahan dengan ditemani mama yang sudah terbang dari Surabaya sejak kandungan saya menginjak usia 8 bulan.
Setelah sampai dirumah sehabis jalan pagi, ternyata keluar darah segar, tanpa adanya mulas atau kontraksi sama sekali.
Kami segera berangkat ke rumah sakit. Akhirnya hari yang kami tunggu tiba juga.
Bismillah...
Sampai di rumah sakit, perawat memeriksa saya dan ternyata statusnya masih di pembukaan satu. Perawat menyuruh saya untuk bed rest karena darah segar masih terus mengalir. Saya pun menurut.
Dan status saya masih juga di pembukaan satu sampai malam tiba. Dokter menginstruksikan kalau sampai jam 12 malam status saya masih belum ada perkembangan, maka proses induksi harus dilakukan. Hati saya mulai tidak tenang.
Tepat jam 12, perawat memeriksa saya lagi dan ternyata status pembukaan saya benar-benar tidak mengalami perkembangan. Saya menjadi tegang.
Akhirnya saya dibawa ke ruangan lain dan diinduksi.
Di ruangan itu saya bersama dengan dua orang perawat yang masih muda-muda.
Saat mulai merasakan mulas akibat induksi, saya pun meminta perawat untuk memanggilkan mama saya yang ada dikamar untuk mendampingi saya selama proses melahirkan. Ternyata perawat menolaknya. Perawat itu mengatakan kalau kebijakan rumah sakit melarang seorang ibu didampingi oleh keluarganya saat proses melahirkan. Saya menjadi panik.
Sambil menahan mulas, saya pun protes kepada perawat muda itu dan memaksanya untuk memanggilkan mama saya.
Perawat itu menolak permintaan saya dan melangkah meninggalkan saya. Saya kesal sekali.
Saya melirik jam dinding.
Rasa mulas kontraksi itu hilang-muncul setiap setengah jam sekali.
Dokter kandungan saya sempat datang menemui dan menyuruh saya mempersiapkan diri. Beliau menyemangati dan membuat saya optimis. Saya pasti bisa melalui ini semua, batin saya dengan penuh percaya diri.
Jam 1 dini hari...
Mulas ini sudah tidak tertahankan.
Rasanya perut saya seperti diremas-remas, diaduk-aduk, ditusuk-tusuk dalam waktu bersamaan. Saya memiringkan tubuh saya ke kiri, tujuannya supaya mulasnya semakin intens dan segera melahirkan.
Saya memperhatikan jam dinding dan menghitung jeda waktu dari satu kontraksi kontraksi berikutnya. Perawat sesekali memeriksa status pembukaan saya saat jeda mulas kontraksi.
Pinggiran tempat tidur yang sejak awal menjadi pegangan saya semakin lama semakin erat saya genggam, hingga bergetar karena rasa sakit yang semakin tidak tertahankan.
Di ruangan sepi itu hanya ada suara gemeratak gigi saya menahan sakit yang teramat sangat di bagian bawah perut saya. Masih dalam posisi miring ke kiri, saya memegang erat pinggiran tempat tidur hingga tangan saya sakit dan berkeringat dingin.
Mulas kontraksi menjadi semakin intens. Saya memperkirakan ini terjadi setiap sepuluh menit sekali.
Doa dan wirid tidak berhenti saya ucapkan. Awalnya saya hanya menahan rasa mulas ini, sekarang karena rasanya semakin intens dan semakin dahsyat, saya tidak bisa lagi menahannya. Saya menggeram, berteriak, dan mengeluarkan rintihan kesakitan yang teramat sangat. Saya tidak peduli lagi pada dua perawat muda itu, dengan menyingkirkan rasa malu dan segan, saya keluarkan rintihan kesakitan saya.
Berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit yang saya rasakan kala itu.
Tempat tidurpun ikut bergetar hebat karena getaran tubuh saya menahan rasa sakit.
Saat mulas kontraksi hilang-muncul setiap lima menit sekali, rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lagi, sampai-sampai saya berpikir mungkin rasa sakit saat sakaratul maut adalah seperti sekarang ini.
Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kalau rasa sakitnya akan semengerikan ini.
Saya mulai menangis sambil berteriak, melampiaskan rasa sakit yang sudah tidak bisa ditolerir tubuh saya.
Saya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit ini. Saya berpikir untuk menyerah saja dan mengakhiri rasa sakit ini dengan operasi caesar.
Saya sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Selangkangan saya terasa panas. Seperti menganga lebar dan ada sesuatu yang hendak keluar. Dengan panik saya berteriak memanggil perawat.
"Mbaaakkk!!! Kepalanya sudah mau keluar!!! Aaarrrgggghhhh!!!"
Perawat segera memeriksa pembukaan saya dan langsung membawa saya ke ruang bersalin.
Jam 2 dini hari...
Saya dikelilingi lebih banyak perawat, dan dokter kandungan saya ada di ujung tempat tidur.
Bagian sandaran kepala tempat tidur saya dinaikkan, kaki saya dibuka lebar. Salah satu perawat menginstruksikan cara mengejan yang benar dan berada di samping saya.
Dengan setengah sadar sambil menahan sakit, saya memaksakan teori mengejan itu masuk ke otak saya yang sudah dipenuhi rasa sakit.
Dokter mulai memberi aba-aba untuk mengejan.
Saat mulai mengejan, rasa sakitnya ternyata bertambah hebat. Yang saya inginkan hanya membuat bayi itu segera keluar dan mengakhiri rasa sakit itu.
Segala macam teori soal mengejan pun hilang lenyap. Saya tidak bisa berpikir lagi. Kepala saya kosong.
Saya meraung dan merintih lebih keras. Hingga pada satu hentakan keras, dengan sisa-sisa tenaga yang saya punya, bayi itupun lahir.
Suara tangisnya melegakan dan merilekskan seluruh tubuh saya yang seperti mengalami memar dan bengkak.
Tubuh saya lemas dan lunglai seolah hanya menyisakan sedikit tenaga untuk bernafas.
"Bayinya perempuan, bu", sayup-sayup saya dengar suara perawat. Saya mengantuk karena kelelahan.
Dokter melakukan proses pasca melahirkan, yaitu menjahit, tapi saya tidak perduli.
Semua rasa sakit saya sudah hilang, dan rasa sakit karena dijahit sama sekali tidak saya pedulikan. Karena saya baru saja mengalami rasa sakit ambang batas antara hidup dan mati, yang alhamdulillah bisa saya lalui dengan lancar.
Ditengah kelelahan dan rasa kantuk yang melanda, perawat mendatangi saya dengan membawa seorang bayi mungil yang telanjang dan sudah dibersihkan.
Perawat menyibakkan baju saya dan menaruh bayi mungil itu di dada saya.
Kulitnya keriput dan sangat rapuh.
Saya tidak berani menyentuhnya.
Merasakan kehangatan tubuhnya di dada saya membuat saya menagis haru.
Saat itulah waktu serasa berhenti.
Dunia seakan berpusat pada kami berdua.
Rasa sakit dan lelah selama lebih dari 2 jam itu terbayar sudah.
This is my sweet moment.
It tells me that i'm so special.
Selamat datang ke dunia, putri kecilku.
~Alhamdulillah jadi juara~

Test
BalasHapusNgeteeees ka
BalasHapusBisa ka juuu
BalasHapusAlhamdulillah bisa :*
BalasHapus