Kamis, 25 Juli 2013

Ramadhan pertama Aria

Tahun ini anak pertama kami yang bernama Aria sudah menginjak usia 5 tahun.

Sebelum masuk Ramadhan, saya dan suami sepakat kalau tahun ini Aria sudah waktunya diajari puasa. Jadi sebelum memasuki bulan Ramadhan, kami menjelaskan segala hal tentang puasa kepada Aria, tentu saja dengan penjelasan yang sesuai kapasitas anak-anak seusianya.

Ramadhan hari pertama...
Malam hari sebelum sahur, saya dan suami sudah memberikan penjelasan kalau nanti kami akan membangunkannya untuk makan sahur bersama.
Aria mengiyakan. Tapi nyatanya, sahur pertama gagal. Aria tidak bisa dibangunkan, dipaksa duduk untuk makan malah menangis meraung-raung.
Kami mengalah dan membiarkannya tidur lagi.

Ramadhan hari kedua...
Malam sebelum sahur, kami memberikan penjelasan yang sama seperti malam sebelumnya, bahwa nanti Aria akan dibangunkan untuk ikut makan sahur bersama.

Strategi yang kami gunakan adalah menyalakan televisi pada channel acara anak-anak favoritnya.

Alhamdulillah strategi kami berhasil.
Aria bangun dan menghabiskan makan sahurnya sambil menonton acara kartun favoritnya.

Karena berhasil bangun saat sahur dan tidur lagi setelah makan, paginya Aria bangun terlambat, tidak mengapa karena Aria masih libur sekolah. Jam 9 pagi Aria baru bangun.

Seperti kebiasaannnya tiap pagi, setiap bangun tidur yang pertama kali dicari Aria adalah susu. Dan dia tidak menemukan segelas susu di tempat biasanya.

Rupanya Aria lupa kalau sedang berpuasa, dan saya menjelaskan lagi soal puasa adalah tidak makan dan tidak minum, jadi tidak ada susu saat sedang berpuasa.
Aria pun menurut.

Jam 11 siang Aria mulai rewel. Haus lah, lapar lah. Dan mulai marah marah.
Dengan tetap menahan emosi karena mendengar keluh kesahnya yang tak kunjung berhenti, sayapun menyuruhnya untuk main bersama teman-temannya diluar atau menonton tv agar dia lupa kalau sedang berpuasa. Aria menolak, dan tetap rewel. Kerewelannya berakhir saat adzan Dhuhur berkumandang.

Setelah puas makan dan minum, saya jelaskan kalau dia akan mulai puasa lagi. Tidak makan dan tidak minum lagi sampai adzan maghrib berkumandang.

Alhamdulillah puasa hari pertama Aria kami nyatakan berhasil, meski masih puasa setengah hari.

Ramadhan hari ketiga...
Masih dengan strategi yang sama saat sahur, dan masih dengan hasil yang sama. Aria berhasil bangun saat sahur dan menghabiskan makan sahurnya sambil menonton tv.

Puasa Aria hari kedua ini cukup aneh.
Aria tidak serewel hari kemarin. Saya pikir karena dia sudah mulai terbiasa puasa. Rupanya tanpa sepengetahuan saya, Aria minum air putih. Bukannya sambil mencuri-curi, tapi dia bersikap biasa saja. Minum dengan santainya.

Saat saya memergoki Aria sedang minum, saya mengingatkannya.
"Aria kok minum?", dia pun melihat saya dengan pandangan aneh.
"Kenapa Aria nggak boleh minun, ma?", tanyanya dengan polos. Ahh rupanya dia lupa kalau sedang berpuasa. Saya pun mengingatkannya kalau saat ini Aria sedang berpuasa, dan dia menurut saat saya melarangnya minum dan mengambil gelas dari tangannya.

Hari itu beberapa kali saya memergoki Aria dengan santainya mengambil gelas dan hendak mengambil air minum dari dispenser. Saya tersenyum saja dan mengingatkannya lagi dan lagi kalau dia sedang berpuasa. Dan Aria pun menurut. Tanpa rewel seperti kemarin.

Saya memberinya kesempatan untuk berbuka saat adzan Dhuhur berkumandang.

Dan hari kedua Aria puasa kami nyatakan setengah berhasil, karena faktor lupa yang terus menerus tadi.

Malam harinya, Aria mengatakan kalau kepalanya pusing, saya pun menyuruhnya tidur lebih awal.

Saat akan membangunkan Aria untuk sahur bersama, saya merasa kalau Aria demam, tubuhnya hangat. Saya pun tidak membangunkannya dan membiarkannya tetap tertidur pulas.
Pagi harinya saya cek lagi ternyata tubuh Aria semakin panas, dia tidak mengijinkan saya untuk mengukur suhunya dengan termometer.
Aria tidak mau makan dan hanya mau minum air putih saja.

Agak siang, Aria minta dibelikan roti, saya pun menurutinya. Baru saja makan beberapa gigit roti, Aria muntah. Agak lama setelah muntah, dia ingin makan roti lagi, setelah beberapa gigitan masuk ke perut, kemudian muntah lagi. Begitu seterusnya.
Saya menjadi bingung dan menyuruhnya untuk tidur saja.

Saya bertanya pada tetangga sebelah soal kejadian sakitnya Aria, dan katanya anaknya pun mengalami hal yang sama saat awal kali belajar puasa dulu. Dia bilang itu karena tubuhnya sedang beradaptasi. Saya menjadi sedikit lega dan tidak lagi panik.

Demam Aria tidak juga turun di hari kedua dan tiap kali habis makan atau minum obat selalu saja muntah. Karena tidak tahan melihat Aria seperti itu, saya pun mengajak suami untuk membawa Aria ke dokter.
Dokter menyatakan Aria menderita radang. Bisa jadi radang tenggorokan atau radang pencernaan.

Alhamdulillah demam Aria berangsur-angsur menurun setelah meminum ibat dari dokter dan tidak lagi muntah.
Aria pun berangsur-angsur pulih, dan saya mengijinkannya untuk tidak berpuasa dulu sampai Aria benar-benar sehat.

Tahun ajaran baru di sekolah Aria pun dimulai. Saat pulang sekolah Aria bercerita kalau ustadzahnya menyuruh semua murid untuk berpuasa, dan Aria meminta untuk kembali berpuasa lagi.
Karena merasa Aria sudah benar-benar sehat, kami pun mengijinkan Aria untuk berpuasa lagi.
Dan kejadian itu terulang lagi.
Setelah dua hari berhasil menyelesaikan puasa setengah harinya, Aria demam dan muntah lagi. Gejalanya persis sama dengan yang sebelumnya.

Saya dan suami pun berdiskusi, meneliti apa- apa saja yang dimakan dan diminum Aria, sehingga menyebabkan dia demam dan muntah. Kami mencari persamaan diantara dua kali Aria sakit itu, dan persamaan itulah yang mungkin menjadi penyebab sakitnya Aria.
Kesimpulan kami adalah pada es dan gorengan yang dikonsumsi Aria saat berbuka puasa.
Kami mengingat-ingat lagi, setiap kali Aria demam, sebelumnya pasti dia berbuka puasa dengan minum es dan makan gorengan. Dan itulah yang mungkin menjadi penyebab radang nya.

Alhamdulillah kini Aria sudah bisa puasa lagi. Meski kadang tidak bangun untuk makan sahur bersama, tapi Aria makan terakhir jam 9 pagi, kemudian puasa sampai adzan maghrib berkumandang.

Tidak ada lagi kerewelan tanpa henti. Tidak ada lagi marah-marah. Yang ada hanya kerewelan yang normal anak-anak seusianya yang sedang belajar berpuasa.
Tidak ada lagi berbuka dengan es dan gorengan untuk Aria.

Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga dari sebuah kesalahan fatal, saya sebagai orang tua telah memberikan hidangan berbuka yang salah pada anak yang sedang beradaptasi berpuasa.
Saya benar-benar belajar dari kesalahan saya itu, dan Aria pun juga belajar dari sakitnya, dia menurut saat saya melarangnya minum es dan gorengan, takut muntah lagi katanya.

Karena kerewelan Aria jugalah saya jadi belajar untuk tidak terpancing meluapkan emosi pada anak yang sedang belajar berpuasa dan butuh banyak bimbingan serta teladan yang baik.

Kini hampir setiap malam Aria memberikan pertanyaan yang sama pada saya.
"Besok kita puasa lagi ya, ma?". Saya menjawabnya dengan senyuman dan berterima kasih padanya, karena selama ini Aria telah mengalami banyak kemajuan dalam puasanya.
Dengan polosnya Aria berkata, "Aria suka puasa, ma".
Hati ini luluh seketika mendengar pernyataan jujurnya.

We love you, Aria.
Semoga kelak kau menjadi investasi akhirat yang berharga bagi kami. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat.

2 komentar:

  1. semoga tahun depan bisa puasa full ya, hihi. terima kasih atas partisipasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Alhamdulillah masih bisa termasuk peserta juga saya, mepet soalnya >_<
      Makasih :)

      Hapus