Senin, 26 Agustus 2013

[BeraniCerita #24] Not a happy ending


Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Kemudian Vivienne melepaskan pelukannya dan menatapku marah.

Plakk!!

Vivienne menamparku dengan keras. Menyisakan bekas telapak tangannya yang memerah di pipiku.

"Kenapa kau menamparku?!"

"Karena kau kejam, Raka! Kau kejam! Aku nggak mau diputuskan dengan cara seperti ini. Ini baru 2 minggu! Kenapa kau tidak memberiku waktu lebih lama lagi?", Vivienne berteriak histeris.

Aku memeluknya lagi untuk menenangkannya.

"Sayang, sebelum pacaran denganku kau tahu betul aku ini cowok macam apa. Aku tidak bisa berkomitmen. Aku ini cowok bebas yang selalu menyukai hal-hal baru"

Plakk!!

Vivienne menamparku lagi lalu dia bergegas meninggalkanku tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

***

"Kau cantik sekali hari ini, Cinthya", aku memandangi cewek dihadapanku ini dengan mesra, lalu mengecup tangannya. Dia menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah.

Kena, kau.

Di belakang Cinthya, kulihat seorang cewek dengan wajah familiar tapi tak bisa kuingat namanya, tiba-tiba mendekati meja kami di cafe itu.

"Aku hamil"

Aku terbelalak kaget mendengar ucapan cewek itu.
Dengan cepat, Cinthya mengambil gelasnya dan menyiramkan orange jus pesanannya ke wajahku lalu bergegas pergi.

"Duduk!", aku membentaknya setelah Cinthya benar-benar pergi.

Cewek itu duduk lalu mengeluarkan test pack dari dalam tasnya.
Test pack dengan dua garis merah yang tegas.

Aku berusaha tetap tenang. Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini jadi aku juga sudah menyiapkan jawabannya.

"Gugurkan"

"Nggak mau", jawab cewek itu dengan tempo lambat.

"Aku akan memberimu sejumlah uang"

"Aku nggak butuh uangmu", jawaban keras kepala semacam itu pun sudah biasa kuhadapi.

"Siapa namamu?", kulihat mata cewek itu melotot marah saat kulontarkan pertanyaan itu.

"Aku Vivienne. Pernah jadi pacarmu sebulan yang lalu", kulihat cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku blus nya.

Sebuah alat perekam mini yang masih menyala.

"Aku merekam pernyataanmu yang menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kalau aku melaporkan hal ini ke papaku yang seorang AKBP di kepolisian, kau pasti tidak akan bisa lari darinya", senyum sinis Vivienne membuatku mual.

Aku tersudut.

"Jadi apa maumu?"

"Dua minggu lagi kutunggu kedatanganmu dan keluargamu kerumahku untuk melamarku", Vivienne meninggalkanku yang sedang mematung dan bermandikan keringat dingin.

3 komentar: