Tidak ada cita- cita yang menggebu atau target tertentu yang harus saya capai pada batas waktu tertentu pula.
Membosankan ya? Hahaha... Begitulah mungkin pikiran sebagian orang. Tapi bagi saya, cukuplah saya berbahagia di zona nyaman saya sendiri.
Jadi saat ada tantangan berupa proyek monumental di tahun 2014, saya harus berpikir keras, berpikir berhari- hari, apa sekiranya proyek 'monumental' saya di 2014?
Sebagai ibu rumah tangga, keinginan saya tidak jauh- jauh dari soal anak. Bukannya di tahun 2014 saya ingin nambah jumlah anak lagi, bukan. Tapi di tahun 2014 saya ingin fokus kepada anak- anak.
Anak sulung saya, Aria, di tahun 2014 akan berusia 6 tahun.
Target saya, saat berusia 6 tahun nanti, Aria sudah hapal dan lancar bacaan sholatnya, sudah bisa puasa satu hari penuh di Bulan Ramadhan tahun 2014, dan lulus tes masuk SDIT.
Saat ini Aria memang sudah bisa beberapa bacaan sholat, juga sudah hapal gerakan sholat, tapi untuk bacaan sholat yang panjang seperti doa iftitah, doa tasyahud akhir, Aria belum bisa. Dan insyaaAllah pelan- pelan akan saya bantu untuk menghapalkannya.
Soal puasa satu hari penuh, di tahun 2013 ini sebenarnya ada beberapa hari di Bulan Ramadhan dimana Aria ikut puasa penuh bersama kami, orang tuanya. Bahkan di awal belajar puasa penuh, kondisi tubuh Aria sempat drop, demam tinggi. Tapi memang anaknya sendiri yang punya keinginan kuat untuk puasa penuh, jadi bismillah kalau sudah ada niatan yang kuat dari Aria sendiri, maka insyaaAllah semuanya akan lebih mudah.
Selain itu di tahun 2014, usia Aria sudah mencukupi untuk masuk SDIT. Di bulan Februari akan ada tes masuk SDIT yang saya rasa cukup bagus. Jadi saya akan fokus untuk membantu Aria melatih hapalan- hapalannya, supaya bisa lulus tes masuk SDIT.
Anak kedua saya, Hana, di tahun 2014 akan berusia 2 tahun.
Target saya, saat Hana berusia 2 tahun nanti akan bisa lancar bicara dan bisa ke kamar mandi sendiri, lepas dari diapers nya.
Usia emas, dimana saya sebagai orang tuanya harus mampu memaksimalkan periode ini.
Saat ini Hana selalu meniru ucapan dan tingkah laku orang- orang disekitarnya, khususnya saya dan kakaknya, Aria, yang lebih sering bersamanya dirumah.
Jadi di tahun 2014 nanti, saya akan membelikan Hana lebih banyak buku dan mainan edukatif untuk merangsang sel- sel motoriknya, juga supaya Hana bisa cepat berkata- kata.
Saat ini Hana sudah bisa mengucapkan beberapa kata dan mengerti sedikit ucapan saya.
Tahun 2014 juga saya ingin Hana bisa ke kamar mandi sendiri saat akan buang air.
Saat ini Hana ke kamar mandi kalau dia sudah selesai buang air, dan bukan sebelumnya. Maka saya harus lebih sabar dan telaten untuk sering membawa Hana ke kamar mandi, sebelum dia buang air agar dia paham bahwa sebelum buang air seharusnya pergi ke kamar mandi dulu.
Karena menurut perkiraan dokter insyaaAllah saya akan melahirkan pada bulan April 2014, jadi fokus saya akan tercurah pada melahirkan secara normal dan memberikan ASI exklusif untuk bayi saya.
Tapi saya tidak mau Aria dan Hana terbengkalai. Saya ingin tetap menjadi madrasah terbesar untuk anak- anak saya. Ingin selalu mendampingi mereka belajar dan menemani disebagian besar waktu mereka.
Solusinya adalah saya harus pintar membagi waktu.
Masalah pekerjaan rumah tangga, saya sudah bicara dengan yayah, suami saya, bahwa dengan adanya tiga anak dirumah, saya akan membutuhkan pembantu rumah tangga untuk membantu membereskan pekerjaan rumah tangga seperti bersih- bersih rumah, mencuci, setrika.
Dan yayah setuju. Yayah menekankan bahwa pembantu tugasnya hanya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan anak- anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami, orang tuanya.
Jadi saat suami bekerja, sayalah yang bertugas mengurus anak- anak, tanpa ada campur tangan dari pembantu. Saat yayah pulang kerja, dia akan membantu sebisanya, membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tersisa dan membantu mengurus anak- anak. Dan saya sangat setuju dengan hal itu. Karena rumah kami hanya memiliki dua kamar, jadi pembantu akan bekerja dengan sistem bekerja- beres- pulang.
Metode dan prinsip dasar yang harus selalu saya pegang demi tercapainya target ini adalah:
Sabar.
Mudah diucapkan tapi sulit sekali dilakukan. Dengan dua anak seperti sekarang saja kesabaran itu sering kali menguap, apalagi nanti kalau sudah tiga anak, tentu tantangannya akan lebih besar lagi dan kesabaran yang diperlukan pun akan lebih besar.
Mengajari anak kuncinya adalah sabar dan telaten, berulang- ulang dan terus menerus. Prinsip inilah yang harus selalu saya pegang.
No yelling, no hitting.
Memang saya masih belum bisa menerapkan hal yang satu ini pada anak- anak. Tapi sebisa mungkin saya akan menahan diri untuk tidak memukul dan berteriak pada anak- anak. Karena saya sadar betul, dampaknya akan sangat buruk pada perkembangan jiwa mereka dan hubungan kami sebagai ibu dan anak.
Dan sebagai orang tua saya harus selalu memberikan teladan yang baik, dan kalau saya suka memukul atau berteriak, maka tidak akan butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukan hal yang sama pada teman- teman atau lingkungannya.
Manajemen waktu yang baik.
Selama ini saya terbiasa untuk mengatur daftar pekerjaan saya dalam sebuah jadwal tidak tertulis yang harus saya jalankan setiap harinya.
Mungkin akan sulit nantinya bagi saya untuk mencuri waktu sekedar hanya untuk mengikuti giveaway atau menulis postingan di blog, bahkan mungkin saya harus merelakan untuk menelantarkan blog dan melewatkan giveaway begitu saja, karena saya bahkan tidak sempat untuk mencari info soal giveaway terbaru.
Tapi kalaupun ingin tetap menulis saya tidak mau sampai mengganggu jatah tidur saya, karena dengan tiga anak nantinya pasti akan sangat melelahkan dan istirahat yang cukup akan sangat saya butuhkan.
Dilarang stress.
Kedua anak saya masing- masing mendapatkan hak ASI eksklusif dari saya, karena itu untuk anak ketiga ini nantinya, insyaaAllah saya juga ingin memberikan haknya, yaitu ASI.
Dan otak sangat mempengaruhi ASI, kalau saya stress, besar kemungkinan ASI saya akan mampet. Selain itu bayi juga dapat merasakan emosi ibunya, jadi kalau saya stress, bayi akan jadi rewel karena terpengaruh emosi ibunya.
Kerjasama Tim yang kompak dengan suami.
Saya tidak akan mampu melakukan semuanya sendiri. Tentu saya akan butuh bantuan dan dukungan suami. Tapi saya harus ingat betul, bahwa suami juga sudah lelah bekerja jadi saya harus menahan diri untuk memaksanya melakukan semua apa yang saya mau. Saya juga harus mampu bertoleransi pada suami. Yang penting adalah saling membantu dan saling menghargai, tahu apa saja tugas masing- masing tanpa disuruh.
Begitulah, proyek pribadi saya di tahun 2014 yang mulai saya persiapkan dari sekarang. Memang tidak 'cetar' dan menghebohkan, hanya sebuah keinginan sederhana dari seorang ibu rumah tangga biasa. Pelan- pelan akan saya usahakan untuk tercapai satu persatu.
Ikhtiar maksimal, dan dilanjutkan dengan tawakkal (doa) yang maksimal pula, adalah kunci sukses segala usaha. Karena sebagus apapun manusia berencana, Allah lah yang Maha Berkehendak. Maka rencanakanlah semua dengan baik, kemudian lakukan usaha yang maksimal, selanjutnya biar Allah bekerja dengan caraNya dalam memberikan hasil pada usaha kita.

Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Proyek Monumental Tahun 2014
BalasHapusAkan saya catat sebagai peserta
Keep blogging
Salam hangat dari Surabaya
Terima kasih, pakdhe :)
BalasHapusSalam balik dari Batam
Aamiin...InsyaALLAH terwujud ya mbak, karena keinginannya baik sekali^^
BalasHapusAamiin. Makasih mb Orin. Semoga proyek mb Orin di 2014 terwujud juga :)
BalasHapusmenjalani hidup sprti air mengalir, aku juga begitu kaa :D
BalasHapus.semoga proyeknya berjalan lancar yaa ^^
Aamiin. Makasih :)
HapusMasya allah semoga lancar proyeknya ka. Tetap istiqomah dan semangaaaaaaaaaat
BalasHapusHo oh. Semangaaaatt!!!
Hapus