Senin, 06 Januari 2014

Hari #6: Jalan rezeki bagiku sudah ditetapkan

Bismillahirrahmanirrahim...

وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فىِ الْاَرْضِ اِلاَّ عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَ عَهَا٠ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْن ٍ (   ٦)

"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Hud ayat 6).

Di tahun 2013 kemarin, saya kembali menekuni minat menulis saya. Dimulai dengan membuat blog, join dengan komunitas menulis di social media, memgikuti beberapa tantangannya, lalu mengikuti berbagai giveaway, lalu akhir-akhir ini memberanikan diri untuk mengirimkan beberapa naskah cerpen saya untuk diikutkan kompetisi yang diadadakan oleh salah satu penerbit besar di Yogyakarta.

Kemudian saya juga ikut-ikutan beberapa teman untuk berburu hadiah kuis di twitter.
Pernah satu atau dua hari saya fokus bergelut dengan smartphone saya.
Berburu kuis dan spamming di twitter.
Banyak sekali kuis yang saya ikuti saat itu, mungkin lebih dari sepuluh kuis.
Saat itu kuota internet saya sudah habis. Dan kebetulan, operator kartu yang saya pakai menggratiskan penggunanya untuk tetap bisa aktif di twitter meski kuota telah habis.
Jadi sasaran saya saat itu adalah kuis yang berhadiah pulsa.

Setiap hari saya mengecek mention twitter saya, berharap nama saya keluar sebagai pemenang. Lama kelamaan saya menganggap kuis sebagai hal yang serius.
Tapi nihil. Dari sekian banyak kuis yang saya ikuti, tidak satupun menyebutkan nama saya sebagai pemenang.
Saya sangat terpukul. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Karena saya mengikuti begitu banyak kuis, dan menganggapnya serius, saya jadi berharap kesempatan saya untuk bisa menang di salah satu kuis menjadi lebih besar.
Tapi manusia hanya bisa berencana, ber-ikhtiar semampunya, tapi Allah-lah Yang Maha Kuasa.

Lalu saya teringat dengan naskah cerpen saya, tapi saya lupa kapan pengumuman pemenangnya akan diumumkan.
Maka saya langsung menuju ke akun twitter penerbit yang menyelenggarakan kompetisi itu.
Lalu mencari link daftar pemenang kompetisi yang saya ikuti. Dan alhamdulillah disana tertera nama saya bersama dengan ke-29 nama pemenang yang lain, yang karyanya akan segera diterbitkan menjadi sebuah novel antologi.

Lalu saya mulai bisa mengambil hikmahnya. Bahwa mungkin, rezeki saya ada pada menulis cerpen, bukannya pada kuis di twitter. 
Mungkin itulah yang berusaha untuk disampaikan Allah pada saya.
Saya harus banyak bersyukur, karena meski saya gagal di kuis, saya bisa berhasil menang di kompetisi yang lain.
Dia-lah Yang Maha Tahu apa-apa yang terbaik untuk saya.

Kini saya lebih fokus dalam menulis cerpen untuk saya ikutkan di kompetisi di penerbit yang sama, karena banyak sekali event kompetisi menulis yang diadakan oleh penerbit itu.
Karena mungkin saja, rezeki saya ada disitu.

Saya juga masih mengikuti beberapa kuis di twitter di waktu senggang saya. Tapi kini saya tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang serius, saya hanya ingin mencoba peruntungan saya lagi, dan hasilnya masih juga nihil :D
Jika dulu saya kecewa dan sedikit sakit hati saat nama saya tidak di mention oleh penyelenggara kuis, kini saya bisa melihat daftar mention sambil tersenyum saat nama saya tidak disebutkan oleh satu pun penyelenggara kuis :)

~495 kata~



Hari #5: Memaafkan

Bismillahirrahmanirrahim...

... وَاَنْ تَعْفُوْٓا اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى... ( ٢٣٧)
"Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa." (Al Baqarah ayat 237).

Memaafkan memang bukan perkara mudah. Dan bagi sebagian orang bahkan menyatakan kalau memaafkan lebih berat daripada meminta maaf.
Padahal memaafkan merupakan salah satu ciri orang bertakwa. Bahkan Rasulullah bersabda bahwa orang yang mau memaafkan akan ditinggikan derajatnya.

Ada perbedaan besar antara memaafkan dan menyetujui sebuah tindakan. Meskipun kita memaafkan kesalahan
seseorang, kita juga punya hak untuk tidak setuju dengan perbuatan seseorang.
Kita hanya boleh membenci perilakunya, bukan orangnya. Itulah mengapa, memaafkan seseorang bukan berarti kita mesti melupakan perbuatannya.
Dengan tidak melupakan perbuatan zalim meskipun kita memaafkannya, akan membuat diri mawas sehingga kita tidak mengulangi perbuatan yang sama di masa depan.

Memaafkan berarti menghapuskan.
Jadi seseorang baru dikatakan memaafkan orang lain apabila ia menghapuskan kesalahan orang lain itu,
kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya.

Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Karena menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan,
menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang.

Ini tidak mudah, oleh karena itu pantaslah
dianggap perilaku orang bertakwa.

Yang harus dilakukan adalah memaafkan orangnya, ambil pelajaran dari situasinya, ingat selalu pelajarannya, lalu lepaskan emosi negatif yang menyertainya.

Memaafkan juga menyehatkan.
Menurut hasil penitian, pendendam memiliki kecenderungan peningkatan kekentalan darah, ketegangan otot, dan tekanan darah yang tidak stabil, bahkan cenderung stres. Sedangkan yang terjadi
dengan pemaaf justru sebaliknya, yakni tekanan darah stabil sehingga kinerja tubuh menjadi optimal.

Jadi marilah kita meneladani sifat Rasulullah yang pemaaf.
Marilah kita menyehatkan hati kita dengan tidak menyimpan 'sampah' dendam yang hanya akan mengotori jiwa kita.
Mari kita saling memaafkan, tidak perlu menunggu Idul Fitri untuk meminta maaf dan memaafkan orang lain.
Dimulai dari saat ini dan dimulai dari diri sendiri.
Jangan mengungkit-ungkit kesalahan orang lain kepada kita. Bebaskanlah dan lepaskanlah.
Insyaa Allah dengan memaafkan, hati kita akan tenang dan damai.

~325 kata~


Sabtu, 04 Januari 2014

Hari #4: Mengejar ridho Allah, bukan ridho manusia

Bismillahirrahmanirrahim...

...وَاللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ ءَحَقُ  ءَنْيُرْضُوْهُ... ( ٢٦)
"Allah dan Rasul-Nya yang lebih berhak untuk mereka cari keridhoan-Nya (QS. Al Baqarah ayat 61).

Beberapa bulan kemarin saya berusaha untuk menetapkan hati saya untuk mulai mengenakan jilbab besar.
Saya sudah membeli beberapa buah jilbab besar tapi masih belum berani mengenakannya.

Banyak sekali pertimbangan mengapa saya maju-mundur untuk memulainya.
Salah satu pertimbangannya adalah takut dibilang 'fanatik' terhadap suatu paham atau aliran tertentu.
Takut dipandang 'aneh' oleh sebagian orang.
Takut dibilang tidak modis, kampungan dan semacamnya.
Dan pikiran-pikiran lain yang menyangkut pendapat orang lain saat melihat saya yang berjilbab besar.

Lalu yayah -suami saya- menasehati saya bahwa janganlah mencari ridho manusia, tapi carilah ridho Allah.

Dan bismillah, saya pun mulai berani mengenakannya. Lillahi ta'ala.
Awal memakainya di keramaian, saya sangat tidak percaya diri. Saya menangkap beberapa pasang mata yang secara terang-terangan menatap saya dan jilbab besar saya. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang saya, tapi saya berusaha untuk mengacuhkannya.

Tapi suatu ketika pernah ada seorang muslimah, dengan jilbab besarnya, seorang yang tidak saya kenal, berpapasan dengan saya di suatu tempat yang ramai, dia menyapa saya dengan senyum hangatnya.
"Assalamu'alaikum."
Seketika itu perasaan saya menjadi hangat.
"Wa'alaikum salam," jawab saya, lalu kami sama-sama berlalu.

Ditengah keterasingan karena disekeliling kami hampir sebagian besar wanita dengan nyamannya berkeliaran mengenakan tank top dan hot pants, dan juga ditengah serangan tatapan mata yang entah apa artinya, ternyata ada yang mengucapkan salam kepada saya dengan ramah dan saya merasa hal itu sebagai dukungan moril kepada saya yang baru mulai belajar mengenakan jilbab besar ini.

Alhamdulillah kini saya sudah terbiasa mengenakan jilbab besar itu, terbiasa mengacuhkan tatapan mata itu, dan menyingkirkan rasa tidak percaya diri itu lalu merubahnya dengan rasa nyaman karena terlindungi oleh jilbab besarku.
Semoga bisa istiqomah. Aamiin.

~308 kata~




Kamis, 02 Januari 2014

Hari #3: 24 jam sehari, berapa menit waktu kita untuk beribadah?

بسم الله الر حمن الر حيم

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاْءِ نْسَنَ ءِلاَّ  لِيَعْبُدُنِ

"Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepadaKu."
(QS. Adz-Dzariat ayat 56).

Suatu hari saat saya membuka facebook, ada salah satu teman dunia maya saya membuat status yang isinya kurang lebih "Allah memberi kita nikmat untuk bernafas selama 24 jam, lalu berapa lama waktu kita untuk beribadah kepadaNya?"

Malu. Itulah perasaan saya ketika membaca status itu. Saya merasa tersentil karena saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berleha-leha di dunia maya daripada beribadah. Astaghfirullahal 'adziim.

Ternyata teman saya membuat status seperti itu karena memiliki motivasi terselubung. Dia ingin mengajak teman-teman lainnya untuk bergabung di grup dimana dia sendiri baru bergabung di dalamnya, namun sudah mendapatkan manfaat yang sangat besar dari grup itu.

ODOJ (One Day One Juz) adalah nama grupnya. Setiap hari setiap anggota grup akan mendapatkan 'jatah' untuk tilawah satu juz dirumah masing-masing yang kemudian akan dilaporkan kepada admin grup jika mereka telah menyelesaikan 'jatah' harian mereka. Setelah semua anggota melapor, maka grup itu telah mengkhatamkan Al Qur'an dalam satu hari itu. Grup yang sangat menakjubkan kan?

Kemudian satu persatu teman-teman dunia maya saya bergabung dengan grup ODOJ itu. Merutinkan tilawah satu juz sebagai amalan harian mereka.

Jujur, saya belum siap kalau harus berkomitmen untuk tilawah satu juz dalam sehari. Jadi saya belum bergabung dengan grup itu :'(

Sebagai wanita, saya tidak iri pada wanita lain yang lebih cantik daripada saya, yang memiliki barang-barang mahal atau rajin ke salon atau memiliki kulit sehalus porselen. Tidak, saya tidak iri pada mereka.
Saya iri pada wanita sholihah dimana keimanannya selalu terjaga dan hal itu terpancar dari cahaya ketakwaan di wajahnya, juga pada sikap dan tingkah lakunya.
Saya iri pada wanita sholihah yang dekat dengan Rabb-nya.

Alhamdulillah, saat saya membuka twitter, ada teman yang membuat tweet soal #1Hari1Ayat ini.
Dan saya pikir, mungkin inilah jalan dari Allah agar saya bisa menambah saldo amalan harian saya. Insyaa Allah.
Dan bismillah... Saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi dan berharap semoga saya bisa istiqomah. Aamiin.
Dan bukan hanya membuka Al Qur'an demi #1Hari1Ayat, tapi juga berusaha merutinkan amalan-amalan lain yang meskipun kecil tapi saya usahakan untuk merutinkannya. Insyaa Allah.

Saya bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang selalu memotivasi saya untuk berubah menjadi lebih baik, teman-teman yang selalu mencari cara untuk memperindah keimanannya.

Jadi, Allah memberi kita nikmat 24 jam sehari untuk bernafas, berapa lama waktu yang kita habiskan untuk benar-benar beribadah kepadaNya?


~416 kata~


Hari #2: Satu- satunya sahabat Rasulullah yang namanya disebut dalam Al Qur'an

Di postingan kedua #1Hari1Ayat ini saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin sebagian besar dari pembaca sudah mengetahui jawabannya, namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada yang belum mengetahuinya.

Dan pertanyaannya adalah:
Siapakah satu- satunya sahabat Rasulullah yang namanya disebutkan secara khusus dalam Al Qur'an?

Apakah sahabat yang dimaksud adalah Abu bakar? Atau Umar bin Khattab? Atau Utsman bin Affan? Atau Ali bin Abi Thalib? Yaitu para sahabat Rasulullah yang namanya sudah tidak asing lagi bagi kita.

Bukan. Ternyata nama- nama mereka tidak disebutkan secara khusus dalam Al Qur'an. Lalu siapakah sahabat yang dimaksud?
Jawabannya adalah: Zaid bin Haritsah. Dan namanya disebutkan dalam Al Qur'an surat Al- Ahzab ayat 37.

Apakah nama itu terdengar asing? Lalu kenapa beliau begitu istimewa hingga namanya disebutkan dalam Al Qur'an?

Zaid bin Haritsah adalah budak milik Khadijah. Saat beliau menikah dengan Rasulullah, Khadijah memberikan Zaid bin Haritsah sebagai hadiah kepada Rasulullah.
Rasulullah sangat menyukai Zaid bin Haritsah hingga kemudian mengumumkan kepada khalayak bahwa Zaid bin Haritsah telah diangkat Rasulullah sebagai anak. Zaid mewarisi Rasulullah, dan Rasulullah pun mewarisi Zaid.

Zaid akhirnya masuk Islam, dan dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy. Namun pernikahan mereka tidak berlangsung lama.
Ketika Zainab dicerai Zaid, ia dipersunting oleh Rasulullah. Kisah ini seperti yang telah dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al- Ahzab ayat 37, dimana nama Zaid disebutkan didalamnya.

Maka tersebarlah gunjingan orang-orang Munafiq, bahwa Rasulullah telah menikahi anak perempuannya. Seketika itu turun ayat 40 surah Al-Ahzab yang membatalkan 'tabbani' (mengangkat anak angkat), sekaligus penjelasan bahwa anak angkat, secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung. Anak angkat tidak bisa saling waris mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah dicerai
halal untuk dinikahi bapak angkatnya.

وَ اِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَِّق الّٰلهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا الّٰلهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَ ٠ وَالّٰلهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰهُ ٠فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا٠ زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لاَ يَكُوْنَ عَلَى  الْمُءْمِنِيْن َ حَرَجٌ فِيْٓ اَزْوَاجِ اَدْعِيٓاءِهِمْ اِذَا قَظَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا٠ وَكَانَ اَمْرُاللّٰهً مَفْعُوْ لاً ( ٣٧)
"Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah," sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri- istri anak- anak angkat mereka, apabila anak- anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi. (Q.S. Al- Ahzab:37).

مَاكَانَ مُحَمَّدٌ  اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ  رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ الّٰلهِ  وَخَاتَمَ النَّبِيِّٓ نَ٠ وَكَانَ الَّلهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمً (.٤)
"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. Al- Ahzab:40)

~487 kata tidak termasuk judul~


Rabu, 01 Januari 2014

2013: Heboh karena dua garis



Waaahhhh rasanya waktu cepat sekali berlalu dan hari ini menjadi hari pertama di tahun 2014. *tiup terompet*

Banyak sekali hal yang terjadi di tahun 2013 ini dan yang paling berkesan buat saya adalah... Hamil anak ketiga.

Jadi ceritanya saya dan yayah -suami saya- sejak memiliki anak pertama sudah berkomitmen untuk memberikan jarak lahir 4 tahun untuk anak- anak kami, kakak ke adik dan ke adiknya lagi dan seterusnya.
Saya nggak mau membatasi berapa jumlah anak yang akan kami miliki, saya hanya berencana untuk membatasi jarak lahirnya saja. Tujuannya supaya saya bisa memaksimalkan perhatian dan kasih sayang untuk si kakak sebelum adiknya lahir karena setelah adiknya lahir, otomatis fokus saya akan beralih pada si adik. Dan juga supaya saya tidak terlalu kerepotan mengurusi anak- anak yang masih terlalu kecil.

Tapi manusia hanya bisa berencana, sementara Allah-lah Yang Maha Kuasa.

Hana lahir bulan Mei tahun 2012, dan pada bulan Agustus tahun 2013, saya mendadak terlambat haid sampai beberapa minggu.

Oh, no.

Untuk informasi, Hana adalah anak yang sangat aktif, sangat lincah, sangat pintar.
Saya sangat kewalahan dibuatnya, apalagi saya jauh dari orang tua dan tidak punya PRT.
Jadi, saya benar- benar belum siap kalau sampai hamil lagi.

Kemudian saya memberanikan diri membeli test pack.
Hari pertama hasilnya positif.
Shock? Jelas.
Saya berusaha menepiskan kenyataan itu dengan membeli test pack lagi, berharap hasilnya negatif dan beberapa hari kemudian saya haid.
Dan tes urin dengan test pack kedua di keesokan paginya hasilnya adalah... Positif.

Saya langsung membangunkan yayah pagi itu lalu menunjukkan dua garis yang tertera di test pack, tanda kalau saya positif hamil.

Lalu respon yayah apa? Dia bersyukur dan sangat gembira.
"Alhamdulillah...," begitu ucapnya.
Saya mengingatkan lagi tentang komitmen kami untuk memberi jarak lahir empat tahunan pada anak- anak.
Dan yayah malah menceramahi saya bahwa saya seharusnya bersyukur karena ini adalah rezeki dari Allah.

Saya sangat terpuruk, sedih. Saya benar- benar belum siap mental untuk hamil lagi. Saya juga masih trauma dengan kelahiran Hana yang melalui proses normal- induksi, karena masih bisa saya rasakan rasa sakitnya.
Saya membayangkan kerepotan mengurus dua anak dan satu bayi, tanpa PRT dan jauh dari orang tua.
Yayah berusaha membesarkan hati saya.
"Sudah, jangan pikirkan bagaimana nanti, kita jalani saja sebaik- baiknya."
Yayah juga berjanji akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah lebih sering lagi dan kalau perlu, kami akan menggunakan PRT dengan sistem kerja-beres-pulang.

Saya mengadu kepada Yang Maha Membolak- balikkan Hati.
Saya mengambil wudhu lalu sholat Dhuha.
Saya meminta agar saya bisa ikhlas dan bersyukur dengan amanah ini.
Saya juga meminta agar selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengasuh kedua anak kami meski dalam keadaan hamil.

Saya tidak boleh seperti ini terus, saya harus bangkit dan merawat janin yang sedang tumbuh ini, tanpa ada penolakan terhadap dirinya, karena saya takut emosi saya akan mempengaruhi perkembangannya. Bagaimanapun, saya tidak membencinya atau menolak kehadirannya, saya hanya belum siap dan butuh waktu untuk menerima semua ini.

Saya membuka mata. Masih banyak disekitar saya, teman- teman dari dunia nyata maupun maya, banyak yang mendambakan karunia ini, bahkan harus menanti sekian tahun hingga doa mereka terkabul. Sedangkan saya? Allah menganugerahi kepada saya karunia yang mereka idam- idamkan, karunia yang didambakan oleh setiap wanita, tapi reaksi saya seperti ini. Sungguh sikap yang tidak pantas.

Saya pun ber istighfar. Dan mulai melihat segalanya dengan lebih baik.
Lalu bantuan Allah datang...
Di Batam, menyewa PRT termasuk hal yang sulit, tapi alhamdulillah saya berhasil mendapatkan PRT dengan sistem kerja-beres-pulang.
Yayah pun menepati janjinya. Dia banyak membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, lebih dari yang saya harapkan darinya.
Kehamilan saya pun tidak begitu rewel, bahkan morning sickness di awal kehamilan tidak terlalu saya rasakan.
Segalanya menjadi lancar dan berbeda dari bayangan saya sebelumnya.

Saya bersyukur sekali bisa cepat bangkit dari keterpurukan dan berhasil mengatasi kelabilan emosi saya di awal kehamilan.

Jadi, something special saya di tahun 2013 adalah:
Hamil, shock, terpuruk, dan bangkit untuk merawat kehamilan ini dengan sebaik- baiknya.

Kini kehamilan saya sudah berusia hampir 6 bulan, dengan tendangan- tendangan kuat dari janin yang sedang tumbuh didalam rahim saya yang membuat perasaan saya membuncah bahagia.
Aku percaya, manusia boleh merencanakan kehidupannya dengan seindah dan sesempurna yang mereka inginkan, tapi bagaimanapun juga rencana Allah jauh lebih indah untuk kita karena Dia-lah Yang Maha Tahu.


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Something Special on 2013 by @meifariwis"

Hari #1: Ayat Kursi

Bismillahirrahmanirrahim...

Di hari pertama #1Hari1Ayat ini saya ingin membahas soal Ayat Kursi yang tercantum di Al Qur'an surat Al- Baqarah ayat 255.

Kenapa saya pilih ayat kursi sebagai ayat pertama yang saya posting di #1Hari1Ayat? Karena menurut hadits shohih, Rasulullah bersabda bahwa ayat kursi adalah ayat yang paling agung diantara semua ayat dalam Al Qur'an.

Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
"Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau berkata, “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”

Aku pun menjawab, 

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻲُّ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮﻡُ

Maka beliau memukul dadaku dan berkata, “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810).

Baiklah mari kita lihat bersama ayat kursi secara lengkap dari surat Al Baqarah ayat 255, beserta terjemahannya:

اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ   ٠لاَ تَاءْ خُذُهُاسِنَةٌ وَّ لاَنَوْمٌ٠ لَهُٓا مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْا َرْضِ   ٠ مَنْ ذَاالَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُا اِلاَّ  ِباِذْنِهِ  ٠ يَعْلَمُ مَا بَيْن َ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ٠وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْ ءٍ مِّنْ عِلْمِهِٓ   اِلاَّ بِمَا شَآءَ٠ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰ تِ وَالَارْضَ   ٠وَلَا يَءُوْدُهُا حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٠( ٥٥٢)

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa'at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar. (Al- Baqarah: 255).

Dalam beberapa hadits shohih disebutkan beberapa keutamaan membaca ayat kursi ini, diantaranya: 
Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.

Demikian sedikit penjelasan mengenai ayat kursi. Kalau ada salah ketik dalam penulisan ayat atau terjemahan, itu adalah murni kesalahan saya karena saya mengetik ayat dan terjemahannya secara manual dengan mengutip dari Al Qur'an dan terjemahannya, bukannya copas sebuah web dari google.

Bukankah tujuan dari #1Hari1Ayat adalah merutinkan kita untuk membuka Al Qur'an setiap harinya? Jadi insyaa Allah setiap postingan #1Hari1Ayat,  untuk ayat dan terjemahannya akan saya ketik manual mengutip dari Al Qur'an dan terjemahannya yang saya punya dirumah.

Semoga postingan ini membawa manfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi saya pribadi.

Referensi:
(1) www.muslim.or.id/al-quran/tafsir-ayat-kursi.html
(2) Al Qur'an Al Hidayah, Departemen Agama RI, penerbit Kalim


~434 kata~