Selasa, 27 Agustus 2013

Citra

Kalau mendengar kata poligami, Citra pastilah orang pertama yang terlintas di pikiranku.
Karena Citra sangat menentang poligami. Prinsip yang sering dikoar-koarkannya adalah lebih baik jadi janda daripada dimadu.
Bahkan dia sampai mempengaruhi teman-temannya untuk menentang poligami sama seperti dirinya.
Seorang teman Citra mengambil langkah perceraian saat suaminya ingin menikah lagi karena mereka belum dikaruniai momongan setelah tujuh tahun menikah.

Itu adalah Citra di masa mudanya.
Sudah lama Citra sangat ingin merasakan indahnya menikah, hamil dan melahirkan.
Tapi Tuhan belum juga mempertemukannya dengan sang pemilik tulak rusuk miliknya, hingga usianya berada di akhir tiga puluhan kini.

Aku sebagai kakaknya sangat prihatin dengan keadaan Citra.

Rupanya Tuhan menjawab doa Citra dengan caraNya yang misterius.

Pinangan itu akhirnya datang juga.
Seorang pria berusia pertengahan empat puluhan mengutarakan niatnya padaku untuk melamar Citra.

Tapi sayang, pria itu adalah seorang pria beristri dengan tiga orang anak.
Mengingat sikap keras Citra yang menolak keras poligami, jadi tanpa pikir panjang langsung kularang pria itu menemui keluargaku dan menyuruhnya menjauhi Citra.

***

"Kenapa mbak menolak niat mas Andi untuk meminangku?!", Citra berteriak histeris saat kuceritakan tentang pria beristri itu yang ternyata adalah teman kerjanya.

"Dia sudah punya istri dan tiga orang anak, Cit"

"Aku sudah tau itu, mbak", Citra menunduk lalu melanjutkan kalimatnya terbata-bata diselingi isak tangis.
"Usiaku kini tidak memberiku pilihan untuk bisa memilih-milih calon suami. Dan kurasa mas Andi bisa memperlakukanku dan mbak Nisa, istrinya, dengan sama-sama baiknya"

"Jadi, kau mau jadi istri mudanya?"

Citra mengangguk sedih.

***

-243 kata-
Turut berpartisipasi dalam tantangan Monday Flashfiction prompt #23: People

9 komentar: