Senin, 02 Desember 2013

Day 1: Juwita, bukan emak emak biasa :D

Hai, hai. Dalam rangka memberanikan diri dan sekaligus nekat ikutan Tantangan nge-Blog 30 hari maka akan aku coba untuk menjawab tantangan hari pertama, yaitu perkenalan.


Namaku Juwita, 'penunggu' blog nggak jelas ini.
Umur 29 tahun, sudah menikah dan dikarunia 2 orang anak, plus sedang hamil 5 bulan.
Hobi membaca, menulis, memasak (?), mengurus anak (?!).

Seorang ibu rumah tangga yang lebih suka membaca shojou manga (komik cewek yang berisi cinta- cintaan), daripada membaca novel atau majalah.
Lebih suka makan daripada masak, tapi demi melaksanakan kewajiban mulia sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik, tetap memasak tiap hari dan melaksanakan rutinitas ibu rumah tangga lainnya, every single day.
Lebih suka menonton anime (animasi dari Jepang yang diaptasi dari komik dan sebaliknya) dan Drama Korea daripada nonton sinetron Indonesia atau infotainment.
Lebih suka berkumpul dengan kasur, bantal, guling, smartphone dan komik, daripada kumpul- kumpul bersama teman di mall atau ngerumpi sore- sore bersama tetangga di depan rumah sambil nyuapin anak :D

Lahir dan besar di Surabaya. Sejak tahun 2007, seminggu setelah menikah langsung ikut suami ke Denpasar, Bali karena dia sudah bekerja disana sejak lulus kuliah.
Setelah puas tinggal di Bali selama 4 tahun, akhirnya kami sekeluarga hijrah ke Batam, Kepulauan Riau, sejak tahun 2011 (atau tahun 2012 ya?) sampai sekarang.

Tidak punya cita- cita yang jelas, hanya menjalani hidup apa adanya dan mengalir begitu saja. Terus berbenah diri menjadi manusia dan hamba Allah yang lebih baik dari hari ke hari, hingga akhirnya mencapai khusnul khotimah (kematian yang baik) dan kekal di dalam surga. Aamiin :')

Angin- anginan. Artinya selalu berubah, alias plin plan.
Beberapa bulan lalu mendadak berniat serius memperbaiki kualitas tulisan dengan banyak menulis.
Akhirnya membuat blog, menulis untuk ikut berbagai giveaway, dan mengikuti komunitas menulis fiksi. Lalu belajar menulis fiksi dan beberapa kali menjawab tantangan menulis fiksi sesuai tema yang ditentukan, sampai akhirnya sekarang jadi males dan mendadak mogok menulis fiksi.

Sekian deskripsi nggak jelas dari saya sebagai perkenalan di awal Tantangan nge-Blog 30 hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi di tantangan hari kedua dan seterusnya sampai hari ke-30 yaa :)


Jumat, 29 November 2013

Alkisah kue tart hijau

Jadi ceritanya, suami saya bukanlah tipe orang yang romantis. Dia lebih cenderung cool, tenang, kalem dan serius.
Selama pacaran, atau bahkan sampai menikah, seingat saya, belum pernah dia memberikan seikat bunga, atau bahkan setangkai bunga, juga kado di hari ulang tahun saya.
Sampai pada ulang tahun saya yang ke-27, dua tahun yang lalu.

Jadi ceritanya, di hari ulang tahun saya, di pagi harinya, suami mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya beserta doa khususnya. Hanya begitu saja, tidak ada yang istimewa, bahkan terkesan seperti sebuah formalitas, bahwa dia ingat kalau hari itu saya berulang tahun. Tidak ada pertanda bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu, seperti tertawa cekikikan dan semacamnya. Bukan kebiasaannya juga, sih.
Pokoknya pagi itu kami lalui seperti pagi- pagi yang lain. Hanya diselingi ucapan ulang tahun sepintas lalu. Kemudian dia berangkat kerja dan saya melanjutkan rutinitas rumah tangga seperti biasanya.

Saya juga tidak pernah menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari istimewa yang patut ditunggu- tunggu kedatangannya atau ingin merayakannya secara khusus.
Bagi saya hari ulang tahun hanya sebuah hari yang menandai bahwa umur saya di hari itu bertambah satu dan jatah hidup saya di dunia berkurang satu.
Jadi saya tidak pernah merasa kecewa kalau ada teman atau keluarga yang lupa pada hari ulang tahun saya. It's oke. It's not a big deal at all.

Siangnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dan saya mengenali kalau itu adalah mobil yang biasa dipakai kantor tempat suami bekerja untuk mengantar jemput karyawannya, termasuk suami saya.
Saya pikir suami saya pulang lebih cepat.
Ternyata yang keluar dari mobil adalah seorang supir dari tempat kerja suami saya.

Awalnya saya cemas, jangan- jangan telah terjadi sesuatu pada suami saya di tempat kerja.
Saat saya membukakan pintu pagar, saya lihat supir itu sedang membawa sebuah kotak besar bertuliskan nama sebuah toko kue yang cukup terkenal di Batam. 
Rasa khawatir yang tadi sempat muncul, berganti dengan rasa heran, apalagi supir itu cengengesan, seperti menahan tawanya.

"Selamat ulang tahun, Bu. Ini titipan dari pak Aris", ucapnya sambil tersenyum.
Saya pun menerima kotak itu sambil keheranan, kok bisa supir itu tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun saya.
Setelah supir itu pergi, saya pun membuka isi kotak itu.
Ternyata isinya adalah sebuah kue ulang tahun dengan lilin bertuliskan usia saya saat itu dan tulisan nama saya di atas kuenya.


Jelas saya sangat terkejut. Suami saya bukanlah tipe orang seperti itu, yang diam- diam merencanakan memberikan kue ulang tahun saya lewat supir kantornya karena dia sendiri sedang bekerja. Bukan dia banget, deh.

Setelah saya puas terheran- heran dengan kelakuan tidak biasa suami saya, hp saya tiba- tiba berbunyi. Nama suami saya tertera di layar hp.
Dengan tertawa kecil dia bertanya apakah kuenya sudah datang dengan selamat?
Lalu dia bercerita kalau dia merencanakan semua dari kantor. Mulai dari menelpon toko kue, memesan desain dan detil kuenya dan terakhir meminta supir kantor untuk mengambil kue lalu mengantarkannya kerumah.

"Sekali sekali boleh lah", katanya sambil tertawa saat saya memberitahunya kalau hal ini bukanlah seperti sifatnya.
Lalu iseng saya bertanya, kenapa kue nya berwarna hijau?
Dia jawab karena dia ingat saya pernah bercerita kalau dulu mantan pacar saya pernah memberikan kue ulang tahun kejutan yang berwarna biru, warna kesukaan saya, jadi dia tidak mau kuenya disamakan dengan kue mantan pacar saya saat itu, jadi dia asal pilih saja warna hijau untuk warna kuenya. Dan saya langsung tertawa keras mendengar jawabannya.

Mungkin bagi pasangan lain hal semacam ini, mendapatkan kue ulang tahun kejutan dari pasangan, adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagi saya, karena hal ini sangat diluar kebiasaan suami saya, dan hal itu dia lakukan karena ingin membahagiakan saya. So sweet sekali bukan?

*****

Saran dan kritik untuk blognya empiee, setelah saya melihat- lihat blognya, saya merasa kurang nyaman dengan banyaknya label/ tag untuk tulisannya. Jadi membingungkan buat yang ingin membaca tulisan empiee.
Tapi saya suka template blognya :)


Minggu, 24 November 2013

Sehari Tanpa Gadget: Aku Milik Kalian Sepenuhnya

Kita pasti sering mendengar istilah Gadget. Apa sih sebenarnya gadget itu?
Setelah saya obrak abrik google dan membaca definisi gadget dari beberapa sumber, dapat saya simpulkan kalau Gadget adalah sebuah piranti elektronik, bentuknya mini atau kecil, yang mempunyai fungsi yang spesifik. Gadget juga selalu up to date, artinya selalu mengalami perubahan menjadi lebih canggih dari versi sebelumnya.
Apa saja yang termasuk Gadget? Yang bisa dikategorikan sebagai Gadget misalnya Smartphone, kamera digital, tablet pc, jam tangan mahal yang canggih, pemutar musik seperti ipod, mp3 player dan sebagainya.

Rutinitas sebagai ibu rumah tangga kadang bisa sangat membuat stress. Melakukan banyak hal sekaligus, anak- anak yang rewel, dan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya, selalu saja ada pekerjaan lain yang menunggu untuk dikerjakan. Karena itulah, saat semua tenang, saya butuh waktu untuk menyenangkan diri saya sendiri, untuk menghilangkan kepenatan itu.

Dan pelarian saya biasanya adalah bersama Smartphone, gadget saya. Sekedar untuk kabur sebentar dari dunia nyata dan berjalan- jalan di dunia maya. Mengetik tulisan untuk diikutkan di Giveaway atau lomba menulis. Window shopping melihat- lihat baju yang ditawarkan di beranda Facebook saya. Atau sekedar mengobrol dengan keluarga di kampung halaman atau beberapa teman lewat aplikasi chatting.

Bisakah saya sehari tanpa Gadget? Bisa. Saat weekend biasanya saya hampir tidak menyentuh Smartphone. Smartphone tersimpan manis didalam tas atau berbaring tenang diatas meja.

Menghabiskan waktu bersama keluarga mampu menyingkirkan Gadget jauh- jauh dari genggaman tangan saya.

Mengobrol bersama suami dan bermain bersama anak- anak adalah keasyikan  tersendiri bagi saya, bahkan tidak jarang kami menghabiskan waktu saat weekend hanya dirumah saja.

Kalau ada gadget, mengobrol terasa hambar dan sering tidak nyambung karena kurangnya fokus dan tidak ada eye contact.
Saya sangat benci hal ini.
Kadang saat saya sedang berbicara, ternyata perhatian suami sedang fokus pada game di smartphone-nya. Sehingga saya harus mengulang pembicaraan karena suami tidak sedang mendengarkan saya sebelumnya. Geregetan rasanya.

Mengobrol tanpa ada gadget di tangan sangat menyenangkan.
Tentu orang lain akan merasa lebih dihargai kalau saat sedang mengobrol, pandangan kita fokus kepadanya.

Biasanya saat sedang tanpa Gadget, waktu bersama anak- anak saya habiskan dengan menonton bersama acara kartun kesukaannya, atau bahkan bersepeda bersama keliling kompleks perumahan di pagi hari. Kadang anak- anak juga membantu ayahnya mencuci mobil sambil bermain air. Suara gelak tawa saat mereka sedang bersenang- senang adalah kebahagiaan yang tak terkira.

Karena si sulung sering diajari membuat pesawat atau bentuk lain dari kertas lipat di sekolah, maka dirumah dia sering mengajak saya membuat aneka bentuk dari kertas lipat. Dan saya menempelkan hasil karya kami di pintu kulkas.



Sekarang saya sedang hamil 4 bulan lebih, dan saya memutuskan untuk mengurangi lebih banyak lagi waktu saya bersama gadget. Saya ingin lebih konsentrasi beribadah. Memberikan nutrisi rohani yang lebih banyak dan lebih berkualitas untuk janin didalam kandungan saya. Dan menghindarkan janin ini dari kemungkinan terpapar radiasi dari sinyal smartphone.

Akhir kata, gunakanlah gadget dengan bijak. Jangan sampai gadget menjauhkan kita dari orang- orang terkasih yang ada di dekat kita, bahkan menganggap mereka seperti tidak ada.
Kita juga harus bisa menguasai diri dan disiplin waktu saat sedang bersama gadget. Tahu kapan harus berhenti dan kembali ke dunia nyata.
Pesan ini khususnya untuk saya pribadi yang sering lupa waktu, lupa anak, lupa suami, dan lupa pekerjaan rumah tangga yang menunggu untuk dikerjakan saat sedang bersama gadget :)

“Tulisan ini diikutkan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”

*total kata dengan judul: 561 kata*

Sabtu, 16 November 2013

Berkenalan dengan Dina Kamila

Hai! Hai!
Wuihhh lama sekali rupanya saya mengabaikan blog ini. Nggak mengunjungi, apalagi menulis disini. Sungguh T.E.R.L.A.L.U.

Baiklah, setelah masa vakum yang lumayan lama, saya memutuskan untuk menulis lagi, sekaligus juga berburu Giveaway lagi :)

Di salah satu Giveaway, secara nggak sengaja saya berkenalan dengan Dina Kamila. Dia menuliskan komentar bahwa dia sedang mengadakan Giveaway juga di blog nya dan dia mencantumkan link yang tanpa basa basi langsung saya klik.

Disitulah saya baru tahu kalau Giveaway itu dalam rangka ulang tahunnya dan tema Giveaway-nya adalah review blog miliknya. Saya baca baca lagi syarat dan ketentuannya, ternyata cukup mudah. Sipp, langsung bookmark. Maklumlah, ibu rumah tangga, harus nunggu waktu yang tepat untuk buat tulisan kalau nggak mau digangguin bocah bocah. Apalagi tulisannya untuk diikutkan Giveaway, harus yang cetar membahana badai halilintar kualitas tulisannya kalau mau menang. Jadilah saya harus semedi dulu nyari pangsit, eh wangsit :p

Dan hari ini, saat sedang ada waktu luang, saya buka bookmark di hape saya dan meluncur ke Dina's World.

Saat awal kali berkunjung, yaitu saat mengintip Giveaway yang diadakan Dina Kamila, saya nggak terlalu memperhatikan tampilan blog nya, karena saya fokus mencerna dan menelan persyaratan untuk Giveaway-nya. Juga nggak sempat berlama- lama disana karena langsung bookmark dan tutup browser.

Barulah di kunjungan kedua saya benar- benar memperhatikan Dina's World dengan lebih seksama.

Adem dan damai. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan di kunjungan kedua ini.
Warna hijau dan gambar pepohonan beserta padang rumputnya benar- benar match dan menyejukkan mata dan hati saya.
Langsung deh saya sok tau dan sok kenal, menganggap Dina Kamila ini orangnya tenang, kalem, dan cinta dengan alam dan keindahan.
Side bar-nya tidak terlalu penuh dan tertata rapi, atau bahkan terlalu sepi? Bagi saya side bar yang seperti itu justru ramah untuk mata saya.

Font hurufnya pun dibuat setipe, kecuali pada judul blog-nya. Tidak terlalu banyak warna juga pada huruf- hurufnya. Benar- benar simple. I like it :)

If You Never Do, You Never Know.
Begitulah secuil kalimat untuk mendeskripsikan Dina's World. Rupanya Dina tidak takut mencoba hal- hal yang baru dan dengan senang hati belajar dari setiap pengalaman yang didapatnya. Begitulah pesan yang bisa saya tangkap dari kalimat itu.
Kalau diperbolehkan, saya ingin sedikit mengoreksi quote-nya. Akan lebih tepat kalau ditulis: If You Never Do, You'll Never Know. Semoga berkenan :)

Tiba- tiba mata saya menangkap sebuah tulisan berjalan. Drive Your Heart Into The Right Direction. Dan pikiran saya malah melantur, melompat ke sebuah boyband yang pernah (atau masih?) digilai remaja di seluruh dunia, One Direction. *gagal fokus*.

Selanjutnya saya mulai membaca- baca tulisan yang disuguhkan Dina di blog-nya. Saya langsung menuju label tulisan di side bar. Label prosa dan puisi berisi cukup banyak tulisan. Well, karena saya nggak begitu suka dengan prosa, puisi dan semacamnya, jadi saya skip label itu. Jangan tersinggung ya Dina, cuma masalah beda selera aja kok ;)

Selanjutnya saya melihat ada label Flash Fiction disana. Naaahhh... Ini kesukaan saya. Tapi hanya berisi tiga tulisan? Nggak apa. Saya nikmati semuanya, bahkan dua dari tiga tulisan Dina dapat banner Reader's Favorite! *applause*

Beranjak dari label Flash Fiction, saya putuskan untuk membaca beberapa tulisan Dina yang ada di label This Is My Life.
Bukannya kepo trus ingin tahu kehidupan pribadi Dina, tapi ini kan blog, jadi tulisan itu meskipun termasuk dalam label This Is My Life tapi tetap berada dalam batas yang bisa dikonsumsi khalayak ramai, jadi saya yakin pasti akan ada hikmah yang bisa diambil pelajaran dari tulisan itu, dan sah sah saja memasuki kehidupan Dina karena memang itulah yang dia suguhkan di Dina's World.

Tulisan pertama yang saya baca di label This Is My Life adalah Welcome October. Kenapa? Karena i hate October, tapi Dina bilang Welcome October. Hemmm..
Bulan Oktober adalah bulan kelahiran Dina, pantaslah dia menyukai bulan itu. Plus bulan Oktober musim hujan, dan saya lihat Dina sering menulis disaat hujan.
Sedangkan buat saya, bulan Oktober adalah bulan dimana Papa meninggalkan kami sekeluarga, jadi harap maklum kalau saya ingin bulan Oktober lekas berlalu, karena pasti mengingatkan saya dengan kenangan itu. Maaf ya jadi curhat :( *ambil tisu*

Tulisan berikutnya yang saya baca adalah My Birthday Cake. Sungguh mengharukan. Tiga kue dalam satu hari! Betapa banyak orang disekeliling Dina yang begitu peduli dan menyayanginya. Kue demi kue dia dapatkan bahkan sejak  awal dia bangun di pagi hari, tepatnya dibangunkan di pagi buta. Pasti sangat membahagiakan momen itu buat Dina.
Dan lagi, saya bersikap sok tau dan sok kenal, menganggap Dina ini pasti orang yang hangat dan menyenangkan. Buktinya teman- temannya sampai rela ke kost-an Dina malam- malam hanya untuk memberikan surprise, dan modus minta traktiran terselip dibalik batu. Hahahahaa.

Dikelilingi dengan perhatian dan kasih sayang sebanyak itu pasti langsung mengaburkan kenangan pahit soal Hadiah Terburuk.
Kalau sudah ada kenangan indah untuk dikenang, untuk apa terus berkubang dalam kenangan sedih? Pengalaman pahit hanya pantas dijadikan batu pijakan untuk melangkah jadi pribadi yang lebih baik, jadi lebih bijaksana untuk lebih berhati- hati dalam melangkah, bukan untuk disesali dan terus meratapinya.
Tentu, kalimat ini bukan hanya berlaku untuk Dina, tapi berlaku juga untukku :)

Yap! Sekian dulu review dari saya. Sudah terlalu panjang, nanti malah Dina bosan bacanya :)
Adakah saran dan kritik dari saya?
Untuk saya pribadi, sebuah blog yang membuat nyaman pengunjungnya adalah blog yang sederhana, tidak terlalu berat dengan beraneka warna atau font huruf yang beraneka tipe.
Tapi untuk sebagian orang, terutama yang sudah lama berkecimpung di dunia blog, mungkin Dina's World terkesan sepi. Terlalu sederhana, kurang ramai, kurang 'wah'. Saya pun menangkap kesan sepi itu, tapi tidak terlalu masalah buat saya sih.

Yang kedua, soal deskripsi profil Dina Kamila yang tidak saya temukan di side bar Dina's World. Bagi saya, ketika mengunjungi blog untuk yang pertama kalinya, saya akan mencari profil si empunya blog. Fungsinya sih untuk sedikit lebih mengenal si empunya blog sebelum saya mulai menjelajahi isi blognya. Apakah Dina memang sengaja tidak mendeskripsikan dirinya sendiri dan membiarkan pengunjung menerka- nerka dengan bebas seperti apa profil Dina Kamila setelah membaca isi blog?
Well, bagaimanapun itu adalah hak masing- masing pemilik blog untuk mengatur blog mereka sesuai dengan citra yang mereka inginkan.

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun untuk Dina. Meski sudah sangat terlambat untuk memberi ucapan selamat, tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk mendoakan saudara sesama muslim kan?
Semoga sukses di Semester Tua-nya. Semoga diberikan usia yang barokah. Semoga segala impian dan cita- cita lekas terwujud. Jadilah selalu Dina yang menjadi kebanggaan kedua orang tua. Aamiin yaa Rabbal 'alamin.

Salam kenal dari saya dan semoga silaturrahim kita tetap berjalan meskipun Giveaway-nya telah lewat. :)

~Juwita~


-Tulisan ini diikutsertakan dalam "First Birthday Giveaway Dina's World"-

Selasa, 27 Agustus 2013

Citra

Kalau mendengar kata poligami, Citra pastilah orang pertama yang terlintas di pikiranku.
Karena Citra sangat menentang poligami. Prinsip yang sering dikoar-koarkannya adalah lebih baik jadi janda daripada dimadu.
Bahkan dia sampai mempengaruhi teman-temannya untuk menentang poligami sama seperti dirinya.
Seorang teman Citra mengambil langkah perceraian saat suaminya ingin menikah lagi karena mereka belum dikaruniai momongan setelah tujuh tahun menikah.

Itu adalah Citra di masa mudanya.
Sudah lama Citra sangat ingin merasakan indahnya menikah, hamil dan melahirkan.
Tapi Tuhan belum juga mempertemukannya dengan sang pemilik tulak rusuk miliknya, hingga usianya berada di akhir tiga puluhan kini.

Aku sebagai kakaknya sangat prihatin dengan keadaan Citra.

Rupanya Tuhan menjawab doa Citra dengan caraNya yang misterius.

Pinangan itu akhirnya datang juga.
Seorang pria berusia pertengahan empat puluhan mengutarakan niatnya padaku untuk melamar Citra.

Tapi sayang, pria itu adalah seorang pria beristri dengan tiga orang anak.
Mengingat sikap keras Citra yang menolak keras poligami, jadi tanpa pikir panjang langsung kularang pria itu menemui keluargaku dan menyuruhnya menjauhi Citra.

***

"Kenapa mbak menolak niat mas Andi untuk meminangku?!", Citra berteriak histeris saat kuceritakan tentang pria beristri itu yang ternyata adalah teman kerjanya.

"Dia sudah punya istri dan tiga orang anak, Cit"

"Aku sudah tau itu, mbak", Citra menunduk lalu melanjutkan kalimatnya terbata-bata diselingi isak tangis.
"Usiaku kini tidak memberiku pilihan untuk bisa memilih-milih calon suami. Dan kurasa mas Andi bisa memperlakukanku dan mbak Nisa, istrinya, dengan sama-sama baiknya"

"Jadi, kau mau jadi istri mudanya?"

Citra mengangguk sedih.

***

-243 kata-
Turut berpartisipasi dalam tantangan Monday Flashfiction prompt #23: People

Senin, 26 Agustus 2013

[Berani Cerita #22] Bukti Cintaku





credit.

 

"Sudahlah sayang, lebih baik kita renovasi saja rumah ini. Kau pasti jenuh menggendongku setiap hari", Lastri menyembunyikan wajahnya dibalik leherku.

  "Sayang, menggendongmu setiap hari seperti ini adalah kebahagiaan bagiku", aku mencium pipinya sekilas.
Pipinya bersemu merah. Malu-malu.

  Rumah ini kami tinggali berdua saja, bersama pembantu rumah tangga paruh waktu.
Dunia kecil kami berpusat di lantai dua, yang ternyata membuat Lastri kesulitan untuk bergerak di rumah kami sendiri sejak peristiwa kecelakaan itu.

  Sebagai suaminya, setiap harinya aku menggendong Lastri naik turun tangga.
Tangga ini adalah saksi bisu betapa besar pengorbananku untuk Lastri.

  "Oh ya, kemarin pak Anton memintaku untuk menulis surat wasiat".
Aku mengerutkan alis mendengar ucapan Lastri.
"Karena tidak ada perkembangan yang berarti pada kondisiku", lanjutnya.

  Lastri adalah janda dari seorang pria tua kaya raya. Mereka tidak mempunyai anak, dan suaminya yang sakit-sakitan menuliskan dalam surat wasiatnya bahwa Lastri-lah yang berhak menerima seluruh harta kekayaannya.

  Aku meletakkan Lastri perlahan-lahan di kursi roda yang telah kusiapkan di ujung tangga.

  "Sayang. Kau tahu, aku selalu menyukai kedermawananmu pada mereka yang tidak seberuntung kita", aku menunduk dan meraih tangannya, mengecupnya lalu memandang lurus ke matanya.

  "Tapi kaulah yang setiap hari menggendongku, hanya agar aku bisa menikmati cahaya matahari pagi dan udara segar".
Aku membalas ucapannya dengan senyuman.

  "Aku berangkat kerja dulu, sayang. Aku yakin kau pasti akan mendengarkan kata hatimu", Lastri meraih tanganku lalu menciumnya.

  *****

  "Bagaimana kabar istrimu?", wanita cantik itu menyalakan api pada rokok di mulutku.

  "Obatnya sudah kutukar. Tentu saja keadaannya semakin melemah sekarang"

  "Lalu, surat wasiatnya?"

  "Pak Anton sudah mendesaknya, sekarang perempuan itu pasti sedang menyelesaikannya", aku menghembuskan asap rokokku ke udara.

  "Kau hebat sekali. Menggendongnya setiap hari dan melayaninya seperti seorang kacung selama setahun ini"

  Aku mendengus.
"Aku menggendongnya naik turun tangga setiap hari hanya agar namaku tercantum di surat wasiatnya. Tapi sekarang kesabaranku semakin menipis", aku menekan ujung puntung rokokku ke dasar asbak dengan kesal.

  Wanita itu berjalan mendekat lalu duduk dipangkuanku.
"Sebentar lagi, my dear hero. Sebentar lagi uang itu akan jadi milik kita, lalu kita akan bersenang-senang menghabiskannya berdua di luar negeri", wanita itu menciumku dengan penuh nafsu.
Rasa kesalku pun lenyap.

  *****

  Aku menggendong Lastri dengan hati-hati lalu membawanya menuruni tangga untuk makan malam bersama.

  "Aku sudah menyerahkan surat wasiatku pada pak Anton tadi siang", Lastri menatap lurus padaku. Aku melihat kebawah mencari-cari anak tangga yang tertutup tubuh Lastri, dan menuruninya dengan hati-hati.

  "Aku memikirkan kata-katamu tadi pagi, dan kuputuskan untuk membagi seluruh hartaku kepada lima lembaga sosial dan panti asuhan yang kutunjuk"

  Bagai habis dipukul dengan beban berat, kepalaku mendadak terasa nyeri.

  Langkahku terhenti.
Kulihat kami baru menuruni tiga anak tangga di belakang kami. Yang artinya masih banyak anak tangga untuk sampai kebawah.

  "Kau baik-baik saja, sayang?"
Suara Lastri membuat nyeri di kepalaku semakin menjadi.
Ternyata lengkingan suara Lastri beradu dengan suara tubuhnya yang menghantam beberapa anak tangga membuat nyeri di kepalaku mereda.

 

*496 kata termasuk judul*

[BeraniCerita #24] Not a happy ending


Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Kemudian Vivienne melepaskan pelukannya dan menatapku marah.

Plakk!!

Vivienne menamparku dengan keras. Menyisakan bekas telapak tangannya yang memerah di pipiku.

"Kenapa kau menamparku?!"

"Karena kau kejam, Raka! Kau kejam! Aku nggak mau diputuskan dengan cara seperti ini. Ini baru 2 minggu! Kenapa kau tidak memberiku waktu lebih lama lagi?", Vivienne berteriak histeris.

Aku memeluknya lagi untuk menenangkannya.

"Sayang, sebelum pacaran denganku kau tahu betul aku ini cowok macam apa. Aku tidak bisa berkomitmen. Aku ini cowok bebas yang selalu menyukai hal-hal baru"

Plakk!!

Vivienne menamparku lagi lalu dia bergegas meninggalkanku tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

***

"Kau cantik sekali hari ini, Cinthya", aku memandangi cewek dihadapanku ini dengan mesra, lalu mengecup tangannya. Dia menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah.

Kena, kau.

Di belakang Cinthya, kulihat seorang cewek dengan wajah familiar tapi tak bisa kuingat namanya, tiba-tiba mendekati meja kami di cafe itu.

"Aku hamil"

Aku terbelalak kaget mendengar ucapan cewek itu.
Dengan cepat, Cinthya mengambil gelasnya dan menyiramkan orange jus pesanannya ke wajahku lalu bergegas pergi.

"Duduk!", aku membentaknya setelah Cinthya benar-benar pergi.

Cewek itu duduk lalu mengeluarkan test pack dari dalam tasnya.
Test pack dengan dua garis merah yang tegas.

Aku berusaha tetap tenang. Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini jadi aku juga sudah menyiapkan jawabannya.

"Gugurkan"

"Nggak mau", jawab cewek itu dengan tempo lambat.

"Aku akan memberimu sejumlah uang"

"Aku nggak butuh uangmu", jawaban keras kepala semacam itu pun sudah biasa kuhadapi.

"Siapa namamu?", kulihat mata cewek itu melotot marah saat kulontarkan pertanyaan itu.

"Aku Vivienne. Pernah jadi pacarmu sebulan yang lalu", kulihat cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku blus nya.

Sebuah alat perekam mini yang masih menyala.

"Aku merekam pernyataanmu yang menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kalau aku melaporkan hal ini ke papaku yang seorang AKBP di kepolisian, kau pasti tidak akan bisa lari darinya", senyum sinis Vivienne membuatku mual.

Aku tersudut.

"Jadi apa maumu?"

"Dua minggu lagi kutunggu kedatanganmu dan keluargamu kerumahku untuk melamarku", Vivienne meninggalkanku yang sedang mematung dan bermandikan keringat dingin.