Selasa, 27 Agustus 2013

Citra

Kalau mendengar kata poligami, Citra pastilah orang pertama yang terlintas di pikiranku.
Karena Citra sangat menentang poligami. Prinsip yang sering dikoar-koarkannya adalah lebih baik jadi janda daripada dimadu.
Bahkan dia sampai mempengaruhi teman-temannya untuk menentang poligami sama seperti dirinya.
Seorang teman Citra mengambil langkah perceraian saat suaminya ingin menikah lagi karena mereka belum dikaruniai momongan setelah tujuh tahun menikah.

Itu adalah Citra di masa mudanya.
Sudah lama Citra sangat ingin merasakan indahnya menikah, hamil dan melahirkan.
Tapi Tuhan belum juga mempertemukannya dengan sang pemilik tulak rusuk miliknya, hingga usianya berada di akhir tiga puluhan kini.

Aku sebagai kakaknya sangat prihatin dengan keadaan Citra.

Rupanya Tuhan menjawab doa Citra dengan caraNya yang misterius.

Pinangan itu akhirnya datang juga.
Seorang pria berusia pertengahan empat puluhan mengutarakan niatnya padaku untuk melamar Citra.

Tapi sayang, pria itu adalah seorang pria beristri dengan tiga orang anak.
Mengingat sikap keras Citra yang menolak keras poligami, jadi tanpa pikir panjang langsung kularang pria itu menemui keluargaku dan menyuruhnya menjauhi Citra.

***

"Kenapa mbak menolak niat mas Andi untuk meminangku?!", Citra berteriak histeris saat kuceritakan tentang pria beristri itu yang ternyata adalah teman kerjanya.

"Dia sudah punya istri dan tiga orang anak, Cit"

"Aku sudah tau itu, mbak", Citra menunduk lalu melanjutkan kalimatnya terbata-bata diselingi isak tangis.
"Usiaku kini tidak memberiku pilihan untuk bisa memilih-milih calon suami. Dan kurasa mas Andi bisa memperlakukanku dan mbak Nisa, istrinya, dengan sama-sama baiknya"

"Jadi, kau mau jadi istri mudanya?"

Citra mengangguk sedih.

***

-243 kata-
Turut berpartisipasi dalam tantangan Monday Flashfiction prompt #23: People

Senin, 26 Agustus 2013

[Berani Cerita #22] Bukti Cintaku





credit.

 

"Sudahlah sayang, lebih baik kita renovasi saja rumah ini. Kau pasti jenuh menggendongku setiap hari", Lastri menyembunyikan wajahnya dibalik leherku.

  "Sayang, menggendongmu setiap hari seperti ini adalah kebahagiaan bagiku", aku mencium pipinya sekilas.
Pipinya bersemu merah. Malu-malu.

  Rumah ini kami tinggali berdua saja, bersama pembantu rumah tangga paruh waktu.
Dunia kecil kami berpusat di lantai dua, yang ternyata membuat Lastri kesulitan untuk bergerak di rumah kami sendiri sejak peristiwa kecelakaan itu.

  Sebagai suaminya, setiap harinya aku menggendong Lastri naik turun tangga.
Tangga ini adalah saksi bisu betapa besar pengorbananku untuk Lastri.

  "Oh ya, kemarin pak Anton memintaku untuk menulis surat wasiat".
Aku mengerutkan alis mendengar ucapan Lastri.
"Karena tidak ada perkembangan yang berarti pada kondisiku", lanjutnya.

  Lastri adalah janda dari seorang pria tua kaya raya. Mereka tidak mempunyai anak, dan suaminya yang sakit-sakitan menuliskan dalam surat wasiatnya bahwa Lastri-lah yang berhak menerima seluruh harta kekayaannya.

  Aku meletakkan Lastri perlahan-lahan di kursi roda yang telah kusiapkan di ujung tangga.

  "Sayang. Kau tahu, aku selalu menyukai kedermawananmu pada mereka yang tidak seberuntung kita", aku menunduk dan meraih tangannya, mengecupnya lalu memandang lurus ke matanya.

  "Tapi kaulah yang setiap hari menggendongku, hanya agar aku bisa menikmati cahaya matahari pagi dan udara segar".
Aku membalas ucapannya dengan senyuman.

  "Aku berangkat kerja dulu, sayang. Aku yakin kau pasti akan mendengarkan kata hatimu", Lastri meraih tanganku lalu menciumnya.

  *****

  "Bagaimana kabar istrimu?", wanita cantik itu menyalakan api pada rokok di mulutku.

  "Obatnya sudah kutukar. Tentu saja keadaannya semakin melemah sekarang"

  "Lalu, surat wasiatnya?"

  "Pak Anton sudah mendesaknya, sekarang perempuan itu pasti sedang menyelesaikannya", aku menghembuskan asap rokokku ke udara.

  "Kau hebat sekali. Menggendongnya setiap hari dan melayaninya seperti seorang kacung selama setahun ini"

  Aku mendengus.
"Aku menggendongnya naik turun tangga setiap hari hanya agar namaku tercantum di surat wasiatnya. Tapi sekarang kesabaranku semakin menipis", aku menekan ujung puntung rokokku ke dasar asbak dengan kesal.

  Wanita itu berjalan mendekat lalu duduk dipangkuanku.
"Sebentar lagi, my dear hero. Sebentar lagi uang itu akan jadi milik kita, lalu kita akan bersenang-senang menghabiskannya berdua di luar negeri", wanita itu menciumku dengan penuh nafsu.
Rasa kesalku pun lenyap.

  *****

  Aku menggendong Lastri dengan hati-hati lalu membawanya menuruni tangga untuk makan malam bersama.

  "Aku sudah menyerahkan surat wasiatku pada pak Anton tadi siang", Lastri menatap lurus padaku. Aku melihat kebawah mencari-cari anak tangga yang tertutup tubuh Lastri, dan menuruninya dengan hati-hati.

  "Aku memikirkan kata-katamu tadi pagi, dan kuputuskan untuk membagi seluruh hartaku kepada lima lembaga sosial dan panti asuhan yang kutunjuk"

  Bagai habis dipukul dengan beban berat, kepalaku mendadak terasa nyeri.

  Langkahku terhenti.
Kulihat kami baru menuruni tiga anak tangga di belakang kami. Yang artinya masih banyak anak tangga untuk sampai kebawah.

  "Kau baik-baik saja, sayang?"
Suara Lastri membuat nyeri di kepalaku semakin menjadi.
Ternyata lengkingan suara Lastri beradu dengan suara tubuhnya yang menghantam beberapa anak tangga membuat nyeri di kepalaku mereda.

 

*496 kata termasuk judul*

[BeraniCerita #24] Not a happy ending


Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. Kemudian Vivienne melepaskan pelukannya dan menatapku marah.

Plakk!!

Vivienne menamparku dengan keras. Menyisakan bekas telapak tangannya yang memerah di pipiku.

"Kenapa kau menamparku?!"

"Karena kau kejam, Raka! Kau kejam! Aku nggak mau diputuskan dengan cara seperti ini. Ini baru 2 minggu! Kenapa kau tidak memberiku waktu lebih lama lagi?", Vivienne berteriak histeris.

Aku memeluknya lagi untuk menenangkannya.

"Sayang, sebelum pacaran denganku kau tahu betul aku ini cowok macam apa. Aku tidak bisa berkomitmen. Aku ini cowok bebas yang selalu menyukai hal-hal baru"

Plakk!!

Vivienne menamparku lagi lalu dia bergegas meninggalkanku tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

***

"Kau cantik sekali hari ini, Cinthya", aku memandangi cewek dihadapanku ini dengan mesra, lalu mengecup tangannya. Dia menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah.

Kena, kau.

Di belakang Cinthya, kulihat seorang cewek dengan wajah familiar tapi tak bisa kuingat namanya, tiba-tiba mendekati meja kami di cafe itu.

"Aku hamil"

Aku terbelalak kaget mendengar ucapan cewek itu.
Dengan cepat, Cinthya mengambil gelasnya dan menyiramkan orange jus pesanannya ke wajahku lalu bergegas pergi.

"Duduk!", aku membentaknya setelah Cinthya benar-benar pergi.

Cewek itu duduk lalu mengeluarkan test pack dari dalam tasnya.
Test pack dengan dua garis merah yang tegas.

Aku berusaha tetap tenang. Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini jadi aku juga sudah menyiapkan jawabannya.

"Gugurkan"

"Nggak mau", jawab cewek itu dengan tempo lambat.

"Aku akan memberimu sejumlah uang"

"Aku nggak butuh uangmu", jawaban keras kepala semacam itu pun sudah biasa kuhadapi.

"Siapa namamu?", kulihat mata cewek itu melotot marah saat kulontarkan pertanyaan itu.

"Aku Vivienne. Pernah jadi pacarmu sebulan yang lalu", kulihat cewek itu mengeluarkan sesuatu dari saku blus nya.

Sebuah alat perekam mini yang masih menyala.

"Aku merekam pernyataanmu yang menyuruhku menggugurkan kandunganku. Kalau aku melaporkan hal ini ke papaku yang seorang AKBP di kepolisian, kau pasti tidak akan bisa lari darinya", senyum sinis Vivienne membuatku mual.

Aku tersudut.

"Jadi apa maumu?"

"Dua minggu lagi kutunggu kedatanganmu dan keluargamu kerumahku untuk melamarku", Vivienne meninggalkanku yang sedang mematung dan bermandikan keringat dingin.

Rabu, 31 Juli 2013

Selamat Datang ke Dunia, Putri Kecilku


Oktober 2011...
Itu adalah saat yang paling menyedihkan buat saya. Karena pada tanggal 5 Oktober 2011, saya dan suami mendapat kabar kalau papa saya meninggal. Kami langsung terbang menuju Surabaya secepatnya.

  Setelah suasana sedih mereda, tamu berkurang, kerabat kembali kerumah masing-masing, saya mulai merasa tidak enak badan, kepala ini sering pusing dan perut saya mual.
Awalnya saya kira karena efek sedih yang mendalam,tapi akhirnya saya sadar kalau sudah terlambat haid lebih dari seminggu.

  Masih di Surabaya, saya putuskan untuk mengetes urine saya dengan test pack. Dan alhamdulillah hasilnya postitif.

  Dan kabar kehamilan saya menjadi pemberi sedikit kegembiraan di tengah kesedihan yang tengah dialami keluarga besar saya.

  Saya tidak ingin terus larut dalam kesedihan karena pasti akan berdampak buruk bagi janin saya.

  Kami kemudian kembali ke Batam.

  Kira-kira sebulan setelah test pack menunjukkan hasil positif, saya melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
Alhamdulillah semuanya normal.
Saya melalui masa-masa kehamilan dengan lancar.

  Setiap saya kontrol ke dokter kandungan dan bertanya tentang jenis kelamin janin, dokter selalu menyatakan kalau janin saya berjenis kelamin perempuan.
Meski saya melahirkan anak pertama saya secara caesar 4 tahun lalu, tapi dokter membuat saya optimis dengan menyakinkan bahwa saya bisa melahirkan secara normal.
Saya pun semakin rajin berjalan kaki di trimester akhir kehamilan.

  Saat melahirkan anak pertama, saya mengalami pecah ketuban yang hebat dan saat sampai di rumah sakit, dokter menyatakan kalau air ketuban saya sudah kering dan harus segera dioperasi, maka saat itu saya tidak mengalami kontraksi dan mulas selama melahirkan.
Hanya pecah ketuban dan tahu-tahu bayi saya sudah lahir.
Jadi saya belum ada pengalaman bagaimana rasanya mulas saat kontraksi, juga belum pernah merasakan proses pembukaan.
Tapi saya membekali diri dengan banyak membaca dan mendengarkan pengalaman ibu-ibu lainnya.

  29 Mei 2012...
Kelahiran sudah tinggal menunggu harinya.
Pagi itu seperti biasa, saya jalan kaki keliling kompleks perumahan dengan ditemani mama yang sudah terbang dari Surabaya sejak kandungan saya menginjak usia 8 bulan.

  Setelah sampai dirumah sehabis jalan pagi, ternyata keluar darah segar, tanpa adanya mulas atau kontraksi sama sekali.
Kami segera berangkat ke rumah sakit. Akhirnya hari yang kami tunggu tiba juga.
Bismillah...

  Sampai di rumah sakit, perawat memeriksa saya dan ternyata statusnya masih di pembukaan satu. Perawat menyuruh saya untuk bed rest karena darah segar masih terus mengalir. Saya pun menurut.

  Dan status saya masih juga di pembukaan satu sampai malam tiba. Dokter menginstruksikan kalau sampai jam 12 malam status saya masih belum ada perkembangan, maka proses induksi harus dilakukan. Hati saya mulai tidak tenang.

  Tepat jam 12, perawat memeriksa saya lagi dan ternyata status pembukaan saya benar-benar tidak mengalami perkembangan. Saya menjadi tegang.
Akhirnya saya dibawa ke ruangan lain dan diinduksi.

  Di ruangan itu saya bersama dengan dua orang perawat yang masih muda-muda.

  Saat mulai merasakan mulas akibat induksi, saya pun meminta perawat untuk memanggilkan mama saya yang ada dikamar untuk mendampingi saya selama proses melahirkan. Ternyata perawat menolaknya. Perawat itu mengatakan kalau kebijakan rumah sakit melarang seorang ibu didampingi oleh keluarganya saat proses melahirkan. Saya menjadi panik.

  Sambil menahan mulas, saya pun protes kepada perawat muda itu dan memaksanya untuk memanggilkan mama saya.
Perawat itu menolak permintaan saya dan melangkah meninggalkan saya. Saya kesal sekali.

  Saya melirik jam dinding.
Rasa mulas kontraksi itu hilang-muncul setiap setengah jam sekali.

  Dokter kandungan saya sempat datang menemui dan menyuruh saya mempersiapkan diri. Beliau menyemangati dan membuat saya optimis. Saya pasti bisa melalui ini semua, batin saya dengan penuh percaya diri.

  Jam 1 dini hari...
Mulas ini sudah tidak tertahankan.
Rasanya perut saya seperti diremas-remas, diaduk-aduk, ditusuk-tusuk dalam waktu bersamaan. Saya memiringkan tubuh saya ke kiri, tujuannya supaya mulasnya semakin intens dan segera melahirkan.

  Saya memperhatikan jam dinding dan menghitung jeda waktu dari satu kontraksi kontraksi berikutnya. Perawat sesekali memeriksa status pembukaan saya saat jeda mulas kontraksi.

  Pinggiran tempat tidur yang sejak awal menjadi pegangan saya semakin lama semakin erat saya genggam, hingga bergetar karena rasa sakit yang semakin tidak tertahankan.

  Di ruangan sepi itu hanya ada suara gemeratak gigi saya menahan sakit yang teramat sangat di bagian bawah perut saya. Masih dalam posisi miring ke kiri, saya memegang erat pinggiran tempat tidur hingga tangan saya sakit dan berkeringat dingin.

  Mulas kontraksi menjadi semakin intens. Saya memperkirakan ini terjadi setiap sepuluh menit sekali.

  Doa dan wirid tidak berhenti saya ucapkan. Awalnya saya hanya menahan rasa mulas ini, sekarang karena rasanya semakin intens dan semakin dahsyat, saya tidak bisa lagi menahannya. Saya menggeram, berteriak, dan mengeluarkan rintihan kesakitan yang teramat sangat. Saya tidak peduli lagi pada dua perawat muda itu, dengan menyingkirkan rasa malu dan segan, saya keluarkan rintihan kesakitan saya.
Berharap hal itu bisa mengurangi rasa sakit yang saya rasakan kala itu.
Tempat tidurpun ikut bergetar hebat karena getaran tubuh saya menahan rasa sakit.

  Saat mulas kontraksi hilang-muncul setiap lima menit sekali, rasa sakitnya sudah tidak tertahankan lagi, sampai-sampai saya berpikir mungkin rasa sakit saat sakaratul maut adalah seperti sekarang ini.

  Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya kalau rasa sakitnya akan semengerikan ini.
Saya mulai menangis sambil berteriak, melampiaskan rasa sakit yang sudah tidak bisa ditolerir tubuh saya.

  Saya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit ini. Saya berpikir untuk menyerah saja dan mengakhiri rasa sakit ini dengan operasi caesar.
Saya sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

Selangkangan saya terasa panas. Seperti menganga lebar dan ada sesuatu yang hendak keluar. Dengan panik saya berteriak memanggil perawat.

  "Mbaaakkk!!! Kepalanya sudah mau keluar!!! Aaarrrgggghhhh!!!"
Perawat segera memeriksa pembukaan saya dan langsung membawa saya ke ruang bersalin.

  Jam 2 dini hari...
Saya dikelilingi lebih banyak perawat, dan dokter kandungan saya ada di ujung tempat tidur.
Bagian sandaran kepala tempat tidur saya dinaikkan, kaki saya dibuka lebar. Salah satu perawat menginstruksikan cara mengejan yang benar dan berada di samping saya.
Dengan setengah sadar sambil menahan sakit, saya memaksakan teori mengejan itu masuk ke otak saya yang sudah dipenuhi rasa sakit.

  Dokter mulai memberi aba-aba untuk mengejan.
Saat mulai mengejan, rasa sakitnya ternyata bertambah hebat. Yang saya inginkan hanya membuat bayi itu segera keluar dan mengakhiri rasa sakit itu.
Segala macam teori soal mengejan pun hilang lenyap. Saya tidak bisa berpikir lagi. Kepala saya kosong.

  Saya meraung dan merintih lebih keras. Hingga pada satu hentakan keras, dengan sisa-sisa tenaga yang saya punya, bayi itupun lahir.

  Suara tangisnya melegakan dan merilekskan seluruh tubuh saya yang seperti mengalami memar dan bengkak.
Tubuh saya lemas dan lunglai seolah hanya menyisakan sedikit tenaga untuk bernafas.

  "Bayinya perempuan, bu", sayup-sayup saya dengar suara perawat. Saya mengantuk karena kelelahan.

  Dokter melakukan proses pasca melahirkan, yaitu menjahit, tapi saya tidak perduli.
Semua rasa sakit saya sudah hilang, dan rasa sakit karena dijahit sama sekali tidak saya pedulikan. Karena saya baru saja mengalami rasa sakit ambang batas antara hidup dan mati, yang alhamdulillah bisa saya lalui dengan lancar.

  Ditengah kelelahan dan rasa kantuk yang melanda, perawat mendatangi saya dengan membawa seorang bayi mungil yang telanjang dan sudah dibersihkan.

  Perawat menyibakkan baju saya dan menaruh bayi mungil itu di dada saya.
Kulitnya keriput dan sangat rapuh.
Saya tidak berani menyentuhnya.
Merasakan kehangatan tubuhnya di dada saya membuat saya menagis haru.
Saat itulah waktu serasa berhenti.
Dunia seakan berpusat pada kami berdua.
Rasa sakit dan lelah selama lebih dari 2 jam itu  terbayar sudah.
This is my sweet moment.
It tells me that i'm so special.
Selamat datang ke dunia, putri kecilku.



 

~Alhamdulillah jadi juara~

Sabtu, 27 Juli 2013

Tutup usia

Terdengar lantunan ayat Al Qur'an dari merdu suaramu.

Tanganku yang semakin melemah ini masih bisa merasakan genggaman tanganmu.

Kurasa sebentar lagi waktuku tiba, sayang.

Jangan menangis istriku, bukankah sering kubilang kita hidup hanya untuk menunggu datangnya hari ini?

Sungguh saat yang tepat untuk menutup usia, 63 tahun.

Kini laluilah sisa usiamu tanpa aku.

Selamat tinggal manisku, kutunggu kau di keabadian.

"Laa illaha 'ilallah"



*jumlah kata tanpa judul: pas 63 kata*

Jumat, 26 Juli 2013

Keluarga maya ku


Keluarga maya yang saya maksud adalah keluarga yang berisi saudara-saudara saya sesama muslim, yang awalnya tidak ada yang saling mengenal satu sama lain, berasal dari beraneka daerah yang berbeda dan tersebar hingga ke luar negeri.

Sebuah keluarga yang berkumpul di dunia maya karena didasari oleh persamaan rasa haus akan ilmu agama dan menjalin ukhuwah islamiah. Keluarga maya saya ini kami sebut dengan Al Usroh.

Berawal dari KULTUM , sebuah grup thollabul ilmi di facebook. Sebuah grup yang menenangkan hati saya dikala itu dan saya merasa betah berlama-lama disana, selain karena banyaknya ilmu yang bisa saya peroleh, juga karena silaturrahim yang santun dan kental dengan nuansa islami.

Saya bergabung di grup kultum pada bulan Ramadhan tahun lalu. Tujuannya hanya satu, untuk memperdalam ilmu agama saya.

Ternyata yang saya dapat lebih dari yang saya harapkan. Alhamdulillah selain mendapat tambahan ilmu agama, saya pun bertemu dengan saudara-saudara baru saya di grup itu. Saudara-saudara dunia maya dari berbagai negara, tapi mereka asli orang Indonesia. Hongkong, Dubai, Taiwan, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, semua berkumpul di satu grup Kultum, menimba ilmu bersama meski awalnya tidak ada yang saling mengenal satu sama lain.

Dengan komen yang santun, ucapan salam dan do'a yang selalu mewarnai setiap postingan, membuat Kultum menjadi pilihan pertama untuk saya kunjungi setiap kali saya membuka facebook.

Silaturrahim yang hangat begitu terasa saat kami berbalas komen. Dan ukhuwah itu berlanjut sampai keluar Kultum.

Masih di facebook, kami mulai saling add dan konfirm. Dan persaudaraan dunia maya pun terjalin. Kami jadi sering bertemu di status salah seorang dari kami, saling berbalas komen, lalu pindah ke status yang lain dan berkumpul lagi untuk saling berbalas komen, begitu seterusnya. Bahkan beberapa dari kami saat membuat status sengaja men-tag beberapa orang supaya bisa berkumpul bersama di sebuah status.

Semakin lama, Kultum semakin banyak anggota, jadi semakin ramai, dan kadang suasana saat membahas suatu ilmu pun menjadi semakin 'panas'. Perbedaan pendapat pun tidak dapat dihindari, dan hanya sedikit orang yang mampu mengontrol lisan dan menjaga sopan santunnya dalam berkomentar.

Ukhuwah tidak berhenti sampai disitu.
Kemudian salah seorang dari kami, kalau boleh saya sebut namanya, Neng Iis, membuat sebuah grup obrolan di message facebook, yang isinya juga thollabul ilmi sambil bersilaturrahim, dengan anggota dari Kultum yang sudah saling add dan konfirm sehingga sudah kenal baik, bukan anggota Kultum sembarangan. Intinya grup obrolan itu adalah versi mini dan santai dari Kultum. Grup obrolan itu diberi nama The Mirror of Muslim.

Kemudian ukhuwah itupun semakin berkembang. The Mirror of Muslim semakin dipadati pengunjung, terlalu ramai pun menjadi tidak menyenangkan, satu per satu dari kami akhirnya meninggalkan The Mirror of Muslim.

Karena masih haus dengan ilmu agama dan merasa sudah sangat dekat dengan saudara-saudara dari Kultum dan The Mirror of Muslim, maka kami memutuskan untuk 'pindahan', dari facebook ke Whatsapp, masih dengan orang-orang yang sama, yaitu beberapa orang 'alumni' Kultum dan ditambah dengan beberapa orang dari The Mirror of Muslim.

Salah seorang dari kami, Nurul Maulana mengumpulkan nomor hape kami dan mengundang kami semua untuk berkumpul di Whatsapp. Dan kami pun merasa betah di grup Whatsapp yang diberi nama Penyejuk Mata dan Hati atau disingkat dengan PMH. Lama kami menghabiskan saat menyenangkan di PMH, saling berbagi ilmu agama sambil mempererat tali silaturrahim.Ukhuwah pun terasa semakin kuat dan solid. Kemudian kesalahpahaman pun terjadi, hubungan kami pun jadi retak.

Sedih memang, tapi dimana ada perjumpaan maka kita juga harus siap dengan perpisahan. Kami merasa sayang kalau hubungan yang sudah sebegitu akrab harus terhenti karena kesalahpahaman, kami berusaha memperbaiki keadaan, namun tidak bisa.

Karena masih ingin mempertahankan ukhuwah ini, dengan mengumpulkan saudara-saudara yang masih tersisa, kami berdiskusi dan memutuskan untuk 'pindahan' lagi.
Masih di Whatsapp, kami pindah dari PMH ke Al Usroh, sebuah wadah bagi kami untuk berkumpul lagi, masih dengan tujuan yang sama, thollabul ilmi sambil menjalin silaturrahimAl Usroh terbentuk pada bulan April 2013 hingga sekarang, dan saya yang ditunjuk sebagai adminnya.

Alhamdulillah beberapa dari kami banyak yang sudah bertemu secara langsung di dunia nyata. Sungguh sangat membahagiakan saat ukhuwah maya ini menjadi nyata. Hubungan kami di facebook pun masih berjalan dengan baik.

Dalam sehari, 300 pesan lebih dari saudara-saudara di Al Usroh mewarnai hari-hari saya. Obrolan-obrolan ringan, sapaan-sapaan hangat dan saling mendo'akan satu sama lain sudah biasa kami lakukan. Saling melempar dan menjawab salam, bersholawat dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan, sambil sesekali tetap saling berbagi ilmu agama pun tidak pernah ketinggalan setiap harinya.

Yang paling mengharukan buat saya adalah, di bulan Ramadhan ini kami saling menelpon untuk membangunkan sahur. Perbedaan jarak dan waktu antara Indonesia dengan Hongkong, Singapura, Korea Selatan dan Taiwan tidak lagi menjadi masalah buat kami.

Berawal dari pertemuan di Kultum setahun yang lalu, sempat beberapa kali 'pindahan', dan mendapatkan cobaan berupa kesalahpahaman, alhamdulillah kami tetap bertahan.

Semoga persahabatan, kekeluargaan dan tali silaturrahim yang telah terjalin sedemikian akrab ini akan berlangsung lama dan awet. Bukan hanya di dunia maya saja, tetapi juga di dunia nyata. Aamiin Allahumma Aamiin.

Love You all coz Allah

”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kamis, 25 Juli 2013

Ramadhan pertama Aria

Tahun ini anak pertama kami yang bernama Aria sudah menginjak usia 5 tahun.

Sebelum masuk Ramadhan, saya dan suami sepakat kalau tahun ini Aria sudah waktunya diajari puasa. Jadi sebelum memasuki bulan Ramadhan, kami menjelaskan segala hal tentang puasa kepada Aria, tentu saja dengan penjelasan yang sesuai kapasitas anak-anak seusianya.

Ramadhan hari pertama...
Malam hari sebelum sahur, saya dan suami sudah memberikan penjelasan kalau nanti kami akan membangunkannya untuk makan sahur bersama.
Aria mengiyakan. Tapi nyatanya, sahur pertama gagal. Aria tidak bisa dibangunkan, dipaksa duduk untuk makan malah menangis meraung-raung.
Kami mengalah dan membiarkannya tidur lagi.

Ramadhan hari kedua...
Malam sebelum sahur, kami memberikan penjelasan yang sama seperti malam sebelumnya, bahwa nanti Aria akan dibangunkan untuk ikut makan sahur bersama.

Strategi yang kami gunakan adalah menyalakan televisi pada channel acara anak-anak favoritnya.

Alhamdulillah strategi kami berhasil.
Aria bangun dan menghabiskan makan sahurnya sambil menonton acara kartun favoritnya.

Karena berhasil bangun saat sahur dan tidur lagi setelah makan, paginya Aria bangun terlambat, tidak mengapa karena Aria masih libur sekolah. Jam 9 pagi Aria baru bangun.

Seperti kebiasaannnya tiap pagi, setiap bangun tidur yang pertama kali dicari Aria adalah susu. Dan dia tidak menemukan segelas susu di tempat biasanya.

Rupanya Aria lupa kalau sedang berpuasa, dan saya menjelaskan lagi soal puasa adalah tidak makan dan tidak minum, jadi tidak ada susu saat sedang berpuasa.
Aria pun menurut.

Jam 11 siang Aria mulai rewel. Haus lah, lapar lah. Dan mulai marah marah.
Dengan tetap menahan emosi karena mendengar keluh kesahnya yang tak kunjung berhenti, sayapun menyuruhnya untuk main bersama teman-temannya diluar atau menonton tv agar dia lupa kalau sedang berpuasa. Aria menolak, dan tetap rewel. Kerewelannya berakhir saat adzan Dhuhur berkumandang.

Setelah puas makan dan minum, saya jelaskan kalau dia akan mulai puasa lagi. Tidak makan dan tidak minum lagi sampai adzan maghrib berkumandang.

Alhamdulillah puasa hari pertama Aria kami nyatakan berhasil, meski masih puasa setengah hari.

Ramadhan hari ketiga...
Masih dengan strategi yang sama saat sahur, dan masih dengan hasil yang sama. Aria berhasil bangun saat sahur dan menghabiskan makan sahurnya sambil menonton tv.

Puasa Aria hari kedua ini cukup aneh.
Aria tidak serewel hari kemarin. Saya pikir karena dia sudah mulai terbiasa puasa. Rupanya tanpa sepengetahuan saya, Aria minum air putih. Bukannya sambil mencuri-curi, tapi dia bersikap biasa saja. Minum dengan santainya.

Saat saya memergoki Aria sedang minum, saya mengingatkannya.
"Aria kok minum?", dia pun melihat saya dengan pandangan aneh.
"Kenapa Aria nggak boleh minun, ma?", tanyanya dengan polos. Ahh rupanya dia lupa kalau sedang berpuasa. Saya pun mengingatkannya kalau saat ini Aria sedang berpuasa, dan dia menurut saat saya melarangnya minum dan mengambil gelas dari tangannya.

Hari itu beberapa kali saya memergoki Aria dengan santainya mengambil gelas dan hendak mengambil air minum dari dispenser. Saya tersenyum saja dan mengingatkannya lagi dan lagi kalau dia sedang berpuasa. Dan Aria pun menurut. Tanpa rewel seperti kemarin.

Saya memberinya kesempatan untuk berbuka saat adzan Dhuhur berkumandang.

Dan hari kedua Aria puasa kami nyatakan setengah berhasil, karena faktor lupa yang terus menerus tadi.

Malam harinya, Aria mengatakan kalau kepalanya pusing, saya pun menyuruhnya tidur lebih awal.

Saat akan membangunkan Aria untuk sahur bersama, saya merasa kalau Aria demam, tubuhnya hangat. Saya pun tidak membangunkannya dan membiarkannya tetap tertidur pulas.
Pagi harinya saya cek lagi ternyata tubuh Aria semakin panas, dia tidak mengijinkan saya untuk mengukur suhunya dengan termometer.
Aria tidak mau makan dan hanya mau minum air putih saja.

Agak siang, Aria minta dibelikan roti, saya pun menurutinya. Baru saja makan beberapa gigit roti, Aria muntah. Agak lama setelah muntah, dia ingin makan roti lagi, setelah beberapa gigitan masuk ke perut, kemudian muntah lagi. Begitu seterusnya.
Saya menjadi bingung dan menyuruhnya untuk tidur saja.

Saya bertanya pada tetangga sebelah soal kejadian sakitnya Aria, dan katanya anaknya pun mengalami hal yang sama saat awal kali belajar puasa dulu. Dia bilang itu karena tubuhnya sedang beradaptasi. Saya menjadi sedikit lega dan tidak lagi panik.

Demam Aria tidak juga turun di hari kedua dan tiap kali habis makan atau minum obat selalu saja muntah. Karena tidak tahan melihat Aria seperti itu, saya pun mengajak suami untuk membawa Aria ke dokter.
Dokter menyatakan Aria menderita radang. Bisa jadi radang tenggorokan atau radang pencernaan.

Alhamdulillah demam Aria berangsur-angsur menurun setelah meminum ibat dari dokter dan tidak lagi muntah.
Aria pun berangsur-angsur pulih, dan saya mengijinkannya untuk tidak berpuasa dulu sampai Aria benar-benar sehat.

Tahun ajaran baru di sekolah Aria pun dimulai. Saat pulang sekolah Aria bercerita kalau ustadzahnya menyuruh semua murid untuk berpuasa, dan Aria meminta untuk kembali berpuasa lagi.
Karena merasa Aria sudah benar-benar sehat, kami pun mengijinkan Aria untuk berpuasa lagi.
Dan kejadian itu terulang lagi.
Setelah dua hari berhasil menyelesaikan puasa setengah harinya, Aria demam dan muntah lagi. Gejalanya persis sama dengan yang sebelumnya.

Saya dan suami pun berdiskusi, meneliti apa- apa saja yang dimakan dan diminum Aria, sehingga menyebabkan dia demam dan muntah. Kami mencari persamaan diantara dua kali Aria sakit itu, dan persamaan itulah yang mungkin menjadi penyebab sakitnya Aria.
Kesimpulan kami adalah pada es dan gorengan yang dikonsumsi Aria saat berbuka puasa.
Kami mengingat-ingat lagi, setiap kali Aria demam, sebelumnya pasti dia berbuka puasa dengan minum es dan makan gorengan. Dan itulah yang mungkin menjadi penyebab radang nya.

Alhamdulillah kini Aria sudah bisa puasa lagi. Meski kadang tidak bangun untuk makan sahur bersama, tapi Aria makan terakhir jam 9 pagi, kemudian puasa sampai adzan maghrib berkumandang.

Tidak ada lagi kerewelan tanpa henti. Tidak ada lagi marah-marah. Yang ada hanya kerewelan yang normal anak-anak seusianya yang sedang belajar berpuasa.
Tidak ada lagi berbuka dengan es dan gorengan untuk Aria.

Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga dari sebuah kesalahan fatal, saya sebagai orang tua telah memberikan hidangan berbuka yang salah pada anak yang sedang beradaptasi berpuasa.
Saya benar-benar belajar dari kesalahan saya itu, dan Aria pun juga belajar dari sakitnya, dia menurut saat saya melarangnya minum es dan gorengan, takut muntah lagi katanya.

Karena kerewelan Aria jugalah saya jadi belajar untuk tidak terpancing meluapkan emosi pada anak yang sedang belajar berpuasa dan butuh banyak bimbingan serta teladan yang baik.

Kini hampir setiap malam Aria memberikan pertanyaan yang sama pada saya.
"Besok kita puasa lagi ya, ma?". Saya menjawabnya dengan senyuman dan berterima kasih padanya, karena selama ini Aria telah mengalami banyak kemajuan dalam puasanya.
Dengan polosnya Aria berkata, "Aria suka puasa, ma".
Hati ini luluh seketika mendengar pernyataan jujurnya.

We love you, Aria.
Semoga kelak kau menjadi investasi akhirat yang berharga bagi kami. Aamiin.

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat.